human - blog

Tuesday, September 28, 2004

• pesta

"it's devastating.." kata temanku agi dengan muka muram di pesta perpisahan teman kami daniel dan sarah yang akan pindah ke paris minggu ini.

"i thought they'll stay in new york forever.." timpal sasha, teman kami pria perancis yang sepertinya akan menetap di new york selamanya.

"everybody is leaving...." keluh agi, "first, it was laurent, then it was another friend of mine who went back to india, then it's daniel and sarah, and soon... it's gonna be you, loucee!!! ... all of sudden this city is not so friendly to me anymore!"

"i guess it's just the time of the year..." kataku pelan. teringat pada kenyataan dalam 2 bulan terakhir ini pun teman-teman mainku banyak yang angkat kaki dari apel besar, 4 orang kembali ke indonesia, 1 orang kembali ke philipines, dan 1 orang lagi kembali ke colombia. soon, sahabatku juga akan kembali ke indonesia, dan aku sendiri pun akan segera meninggalkan kota ini menyusul laurent di glasgow.

"well... i guess it's just one thing that we all can't avoid, if we live in new york.." kata sasha menatap kami berdua penuh arti.

"i know.." kataku lagi, "but, honestly.. i never realized it before..."

dulu aku dan laurent sering membahas, new york city adalah kota yang sangat menyenangkan untuk ditinggali. tempat ini energinya gila! energi yang tercipta dari beragam budaya dan jenis manusia yang datang dari segala penjuru dunia. yang membuat kota ini menjadi sebuah melting pot.

tapi laurent juga pernah bilang, new york adalah sebuah tempat persinggahan. orang berbondong-bondong datang melebur dalam energinya, menikmati kemilau lampunya, mengasah diri dalam kerasnya persaingan dan perjuangan hidup berdampingan dengan sesama pendatang lainnya. ".. and i think, at one point people will get tired of all this.." kata laurent, "it's good to come and live here when you are still young and full of energy. but, when it's time to settle down, i don't think this city would be an option."

dulu, aku menentang habis apa yang laurent bilang, tapi lambat laun aku mulai mengerti maksudnya. layaknya sebuah pesta. new york city adalah sebuah tempat berpesta, dimana berbagai macam orang datang, berkenalan, menjalin pertemanan, minum, berdansa dan bersenang-senang. lalu ketika rasa lelah datang dan hati telah terpuaskan dengan rasa senang, mereka akan segera angkat kaki, meninggalkan pesta dan melanjutkan 'kehidupan normal yang sesungguhnya.'

mungkin untuk sebagian orang, pesta di new york memang tak perlu untuk diakhiri, karena pesta tetaplah sebuah pesta yang semestinya dinikmati dengan rasa senang. tapi ketika teman-teman yang menemani tak lagi berada di sana, masih menyenangkankah pesta itu untuk dilanjutkan dan dinikmati?

"agi, the party is over... it's time to move on, sweetie...."


loucee said it on 9:50 PM




Friday, September 24, 2004

• and the countdown begins...


loucee said it on 10:31 PM




Tuesday, September 21, 2004

• las vegas



vegas adalah sebuah fatamorgana,
dimana gurun pasir disulap menjadi sebuah keramaian tempat para pencari hiburan melampiaskan dahaganya. dimana gedung-gedung dibangun dengan semangat untuk menghadirkan sebuah ilusi, dan perempuan-perempuan berpayudara palsu berlalu-lalang di dalamnya.

vegas adalah sebuah kota dosa,
dimana the seven deadly sin adalah bagian dari udara yang dihirup para pengunjungnya. memakan sampai puas makanan yang disediakan di buffet-buffetnya, berjudi hingga sen terakhir tanpa sadar bulan dan matahari telah bertukar tahta di langit sana, dan menikmati penari-penari berpakaian minim bergerak erotis di tiang besi panggung club malam.

"vegas is the most artificial place on earth.." kata brenda chenowith di six feet under.
dan 2 hari 1 malam yang dihabiskan diantara gemerlap lampu kotanya, cukup sudah untuk menggoda manusia manapun melipatgandakan dosanya disana, tanpa harus merasa bersalah. sesuai dengan peraturan tak tertulisnya "whatever happens in vegas, never happens!"


loucee said it on 11:05 PM




Thursday, September 16, 2004

• dan bom pun meledak...

"apakah aman untuk datang ke indonesia sekarang, sayang?" tanya suamiku melalui yahoo messenger dua hari setelah bom kuningan meledak.
"yah... aman mungkin..." jawabku sambil menarik napas panjang.
"kamu yakin?"
"hmmm...mmm...."
"ibuku sekarang semakin was-was untuk datang ke pernikahan kita di indonesia. kemarin saja, sebelum ada bom dia udah khawatir. sekarang aku rasa dia semakin cemas." sambungnya lagi.
"so, is she gonna come or not?"
"well.. i have to convince her. tapi sebelum aku meyakinkan dia, aku harus yakin juga. aku gak ingin berspekulasi. pengennya sih gak mikir yang macem-macem. mending nanya langsung ke kamu yang tentunya lebih tau situasi di indonesia."

aku terdiam... berpikir harus bilang apa untuk mententramkan pikiran suamiku dan ibunya. di hati kecilku ingiiiinnn.. sekali aku bilang, "negaraku aman dan damai. penduduknya ramah dan senang tersenyum. ibumu pasti akan merasa senang berkunjung kesana!"
alangkah mudahnya jika aku bisa menjawab pertanyaan suamiku dengan jawaban itu. tapi... melihat photo-photo jalan kuningan yang terlihat seperti di jalur gaza, cukup sudah membuat hati kecilku ciut untuk sekedar berkata sesuatu.

"lagi mikir ya?" katanya lagi setelah lama aku tidak berkata apa-apa.
"iya..." jawabku pelan
"jadi?"
"jujur saja, aku gak tau sayang. minggu lalu, aku mungkin masih bisa menjawab pertanyaanmu dengan yakin, bahwa keraguan ibumu untuk datang ke indonesia itu tidak beralasan. tapi sekarang...."

kalimatku terputus... mulutku membisu dan hatiku linu....... aku harus jawab apa sekarang???



*teroris TERKUTUUUUUUUUUUUUUKKKKKKKKKKKKKKKK!!!!!!!*


loucee said it on 7:35 AM




Monday, September 13, 2004

• lantai merah

aku dulu adalah seorang gadis biru. kecuali darahku, semua benda yang melekat di tubuhku pasti bernuansa biru. mulai dari celana, kaos, tas, sepatu, buku-buku hingga rambutku pun dulu pernah berwarna biru.

lalu aku pindah ke sini. rumah pertamaku terletak di sebuah daerah bernama rego park di queens. rumah 3 lantai yang kecil. aku dan kedua temanku tinggal di tingkat paling atas yang sebenarnya adalah loteng beratap rendah yang sempit dan pengap. bertiga kami sering kedinginan saat badai salju menerjang, atau terpanggang saat matahari musim panas menyerang.

di rumah burung itu aku menghuni kamar di pojok barat. dindingnya berwarna putih dan ukurannya kecil. berdiri pun hanya bisa ditengah. melangkah 30 centimeter ke depan aku sudah sampai di tempat tidur, 30 centimeter ke kanan sampai di meja computer, 30 centimeter ke kiri sampai di lemari baju, dan 50 centimeter ke belakang sampai lagi ke pintu. hanya ada satu hal yang menarik di kamar itu... lantainya berwarna merah!

diawal aku benci setengah mati lantai merah itu. karena aku adalah gadis biru!!
seluruh barang-barangku didominasi warna biru. dan alangkah tidak cocoknya benda-benda biruku jika diletakkan di lantai merah kamarku.

berminggu-minggu aku lesu. sebal setengah mati karena lantai kamar baruku.
sering aku memaki-maki lantai merah itu saat harus membeli seprei, karpet dan tirai di toko untuk menghias kamarku. karena aku tak bisa membeli lagi benda-benda biru, yang menurutku akan mengganggu pandangan dan mood ku saat 2 warna yang menurutku bertolak belakang itu harus bersatu.

sebulan lewat, kamarku masih 'lengang.' tanpa karpet, tirai, atau seprei yang sesuai. di suatu pagi saat baru bangun tidur, aku menatap lantai merah itu dari atas kasur tidurku. "kenapa warnamu harus merah? aku kan tidak suka warna merah! dan aku harus tinggal di kamar ini pula! memandang warnamu dalam jangka waktu yang aku tau akan lama...!!" lalu aku kembali tidur dengan kesal.

pagi itu, aku bermimpi. lantai merah itu balik bicara padaku, "kenapa harus kesal? aku ini hanya sebuah lantai. dan kebetulan warnaku merah. apalah arti warna pada sebuah lantai jika lantai itu masih tetap kuat untuk menopangmu tidur dan berpijak?"

"ya, tapi aku tidak suka warnamu! kenapa sih warnamu bukan biru? aku kan gadis biru! dari dulu aku selalu menjadi gadis biru! dan warna merah dan biru tidak semestinya bersatu karena akan membuat kepalaku pusing selalu!"

lantai merah itu tertawa, "kamu itu lucu. kesal tak menentu begitu. sudah jelas merubah warnaku jadi biru bukan pilihan di rumah ini. nanti di-denda landlord lho! aku malah kasihan dengan keadaanmu. tidur tanpa seprei, jendela pun kau biarkan tanpa tirai, hanya karena warnaku merah. sudahlah, daripada kesal begitu, mengapa tak kau sesuaikan warna isi kamarmu ini dengan warna lantaiku? mungkin sudah saatnya kau mengganti identitas warnamu menjadi gadis merah. lagipula kamu kan sudah lama menjadi gadis biru. gak bosen ya? perubahan itu perlu lho! kalau selama ini ternyata kamu belum berubah karena belum berani, mungkin sekarang saat yang tepat untuk memulainya. mumpung kamu sedang tidak punya pilihan lain selain menyesuaikan warnamu dengan warna merahku!"

aku hanya memandangi lantai merah itu dengan kesal...

"sudah... tak perlu berpikir terlalu lama," kata lantai merah itu lagi, "coba saja dulu. kamu tak akan pernah tau sebelum kamu mencicipinya. kalau nanti ternyata tidak suka, ya kita cari lagi jalan keluarnya. lagipula katanya kamu designer? masa ngambek sama warna? pecahkan dong masalahnya! cari solusinya! buat aku jadi warna yang menyenangkan untukmu. terserah bagaimana caranya, aku rasa kamu lebih tau!"



-------------------------



3 tahun lewat sejak lantai merah itu balik bicara di mimpiku. aku tak lagi tinggal di rumah burung itu, tapi banyak sudah yang berubah pada diriku. aku tak lagi jadi gadis keras kepala yang selalu ingin berwarna biru. aku mulai berani melirik warna lain dalam hidupku. dan, ya... merah kini menjadi salah satu warna pilihanku. lambat laun ia menjadi warna yang sangat menyenangkan untuk dipandang. hingga kamarku yang barupun menjadi merah warnanya sekarang. mulai dari tembok, sprei, karpet dan seluruh pernak-pernik di dalamnya.

kini, aku jadi cinta setengah mati pada warna merah. warna yang penuh energi, dan semangat. benda-benda yang menempel di tubuhku pun lambat-laun mulai berwarna merah dari dompet, anting-anting, sepatu hingga tas. dan aku senang karena akhirnya aku jadi berani mencoba sesuatu yang baru yang tak pernah terlintas saat aku masih jadi gadis biru dulu. seperti hidup yang selalu penuh kejutan, kamu tak akan tau rasanya sampai kamu mencobanya dan berkat warna ini hidupku jadi lebih menggairahkan!!



loucee said it on 9:34 AM




Saturday, September 11, 2004

• apel besar, 6 minggu sebelumnya...




hari ini hari jumat, dan aku benci...
karena jumat adalah awal dari akhir minggu, dan itu berarti aku akan kehilangan 1 minggu lagi dari waktuku yang tersisa di apel besar yang aku cinta setengah mati ini.

sudah sejak dari selasa yang lalu, aku lebih banyak menghabiskan waktu di kamar merahku. setelah seminggu sebelumnya waktu kuhabiskan dengan menelusuri jalan-jalan aspal dan rumput kota manhattan. di kamar ini, hari-hari kuisi dengan melamun, meneliti centi demi centi detil kamarku yang nyaman, yang aku cat sendiri di awal tahun...

sudah sejak dari selasa yang lalu, mataku tak pernah bisa terpejam dengan tenteram. saat matahari mulai muncul ke permukaan, dadaku masih sesak menatap langit-langit kamar. membayangkan...
aku harus meninggalkan kamar merahku, aku harus meninggalkan kotaku...
batinku bergulat, ingin rasanya memutar kembali sebuah benda yang berwujud waktu. saat aku baru sampai dan aroma bumi apel besar menerpa wajahku untuk pertama kalinya, suatu hari di musim panas tahun 2001.

kamar merah ini, dan kota ini, tak hanya menjadi sebuah ruangan yang memiliki ukuran panjang, lebar, dan tinggi. keberadaanya lebih dari sekadar tempat untuk menaungi, atau menjejakkan kaki. tempat ini adalah sumber inspirasi, yang memberiku langit sebagai batas untuk berekspresi, yang memberiku pelajaran tak ternilai tentang hidup sebagai seorang manusia yang memiliki akal, hasrat, keinginan, ambisi, cita-cita, cinta, dan semangat. di tanah inilah untuk pertama kalinya aku ditantang untuk berani berjalan atau bahkan melompat jauh.... jauuhhhh... ke tempat yang sebelumnya tak pernah aku bayangkan.

hari ini hari jumat. itu berarti aku tinggal memiliki 6 minggu lagi di apel besar yang aku cinta setengah mati ini. batinku masih bergulat, tapi akal sehatku mulai memberontak. berdamai... ya, ia ingin aku bisa berdamai dengan kenyataan. ia ingin aku bisa mensyukuri semua yang telah kuhirup selama tiga tahun ini, ia ingin aku bisa tetap menyimpan aromanya dalam sebuah sudut abadi di dalam relung hati, sambil tetap menegakkan kepala, menatap lapang dan melihat mereka yang dengan tangan terbuka siap menyosongku di depan.


loucee said it on 12:01 AM




Tuesday, September 07, 2004

• laporan kedatangan

dengan ini diberitahukan, bahwa roomate baru saya yang bernama Alessandro telah tiba dengan selamat di kamar sebelah pada hari rabu, 1 september 2004.
adapun ciri-ciri fisik yang bersangkutan adalah sebagai berikut:

tinggi/berat badan: kurang lebih sama dengan Laurent
tipe body: kurang lebih sama dengan Laurent
tipe wajah: tirus, panjang, dan berkacamata... yah kurang lebih sama lah kaya Laurent!

jadi kesimpulannya, roomate saya yang baru secara fisik mirip sama Laurent. bedanya cuman di accent (gini nih kalo manggil " LUUUUUUU" - dengan nada tinggi, lalu disambung dengan "SIIIIIIIIIIIIIIII" - dengan nada rendah dan agak meledak-ledak).

adapun kerugian dari faktor kebetulan ini adalah saya jadi semakin teringat-ingat dengan Laurent, sementara faktor keuntungannya adalah saya jadi kurang tertantang untuk menggoda yang bersangkutan (merujuk pada 'peraturan player' no. 32 yang berbunyi "kalo mo godain orang cari tipe lain dooongg.. biar 'koleksinya' bervariasi!") hihihihi...


loucee said it on 7:53 AM




Saturday, September 04, 2004

• perkenalkan roomate baru saya!



(hahakhakak.. bo'ong banget deee... :) photo diatas saya ambil kemarin sore di union square kok!)


sudah beberapa hari ini new york city jadi ribet! gara-gara berlangsungnya the Republican National Convention di Madison Square Garden. kenapa ribet? biasa deh.. demi menjaga keamanan dan kelancaran acara politik tersebut terutama karena paduka yang mulia Bush juga mau dateng, jalan-jalan banyak yang di blok, subway station banyak yang di skip, terutama di daerah MSG, dan dimana-mana banyak demonstrasi.

saya sebenarnya bukan orang yang tertarik dengan dunia politik. jadi saya juga gak terlalu tau banyak tentang politik. tapi saya tau persis dari gosip-gosip, bahwa new york city bukanlah kota yang ramah untuk seorang president bernama Bush yang berasal dari partai republican. sebaliknya kota ini adalah basis kuat partai demokrat yang dalam pemilu masa ini mencalonkan seseorang bernama John Kerry. siapakah dia? saya juga agak kurang tau. cuman, akhir2 ini dia beken banget, wajahnya sering muncul di tv, dan ternyata istrinya juga salah satu keturunan Heinz yang punya pabrik saos tomat (saingannya Del Monte bukan ABC).

anyway, kemarin sore dengan semangat impulsif yang meledak-ledak saya bermaksud pergi ke Battery Park City di downtown Manhattan. dalam perjalanan saya memutuskan untuk mampir di Union Square. eh, ternyata disana sedang ada demo. topiknya? yah apalagi selain menentang Bush untuk dicalonkan jadi presiden lagi... hmm.. terdengar membosankan??

well.. sebenernya gak juga sih. malah sebaliknya, bagi saya demo-demo yang pernah saya hadiri di manhattan adalah demo-demo yang sangat menarik untuk dilihat, meskipun saya gak punya visi yang jelas tentang topik yang di-demo-kan. disini, biasanya demo dijadikan ajang untuk pamer kreativitas. seperti yang gak sengaja saya lihat di union square hari itu, demo gak sekedar diisi dengan orasi, spanduk slogan dan bendera, tapi juga ada yang gelar lukisan seluas lantai kamar saya, ada yang bikin instalasi sepatu-sepatu tentara, ada yang happening art, sampe bikin studio photo dadakan!

nah, mengenai apakah demo tsb membuahkan hasil atau tidak... yah.. God knows...
mungkin bagi orang-orang tsb, yang penting suara mereka bisa didengar oleh masyarakat luas, dan bonusnya adalah saya jadi terhibur (plus mata jadi segaarrr karena yang dateng banyak yang cakep!)




loucee said it on 7:37 AM