Friday, February 25, 2005
• bajaj dan suami
suami saya senang sekali melihat bajaj. dari mulai bentuk, warna sampai sensasi yang didapatnya saat menjadi penumpang bajaj ["shaaaakkyyyyyy..." katanya].
saat baru tiba di jakarta, seminggu sebelum kawinan, ia sudah semangat memperhatikan kendaraan oranye itu dari balik kaca mobil dalam perjalanan dari airport ke hotel.
"kapan kita naik bajaj lagi?" tanyanya penuh pengharapan.
"nanti, abis kawin. kalo sekarang terlalu berbahaya!" jawab saya lempeng.
"are we going to ride a car from hotel to the church on our wedding day?"
"yup."
"gimana kalo mobilnya diganti bajaj aja! it's cute, no?" usulnya mantap tanpa tercium nada bercanda.
"hmm... cute sih... tapi, ntar kamu kan harus pake kain jawa, nanti masuk bajajnya susah pula." jawab saya berusaha untuk gak kalah seriusnya.
"hmm.. well.. i guess you know better than i do."
" i think i do." kata saya sambil menghembus napas lega [gak kebayang deeehh.. ;P]
3 hari setelah menikah, suami ngajak saya nongkrong di starbucks deket rumah bareng seorang teman yang dateng khusus dari apel besar untuk menghadiri pernikahan kami. saya sebenernya pengen ikut juga, bawa powerbook biar bisa sekalian connect via hot spot. tapi apa daya, hari itu saya masih bolak-balik wc, mencra-mencri gak jelas, karena kecapean sejak hari resepsi.
naluri ibu-ibu saya sempat muncul sesaat sebelum melepas mereka berdua berangkat jalan kaki dari rumah, "hati-hati.. jangan nyasar.. tinggal lurus trus belok kiri.. bla..bla..bla.." pokonya memastikan saja supaya perjalanan mereka berdua lancar, aman, dan terkendali, meskipun sebenarnya jarak antara rumah dan starbucks tsb amatlah sangat dekat dan mudah untuk dicapai.
saya masih tergolek di kamar ketika akhirnya mereka berdua pulang beberapa jam kemudian.
"tadi kita pulang naik bajaj!" kata suami saya dengan semangat 45.
"oyaaa??" kata saya setengah terperanjat
"iya.tadinya saya pikir mau nunggu kamu sembuh untuk naik bajaj bareng. tapi kita pengen banget naik bajaj, dan ternyata di depan starbucks banyak bajaj."
"trus, how did you tell the driver where you guys want to go?"
"i said.. pisa kafe.. terussssssss..." [di ujung jalan menuju rumah saya memang ada sebuah kafe yang cukup beken untuk bisa dijadikan patokan jalan]
"hebat!" kata saya sambil cekikikan, "trus bayar berapa?"
"you know, he said sepuluh ribu rupiah at first"
"that's expensive..."
"i know.. so i said rightaway... EMPAT RIBU!!" katanya tanpa bisa menyembunyikan nada bangga di kalimatnya.
"trus supirnya mau?"
"kayanya dia sempet gak mau. mungkin terlalu murah. because i remember you paid five thousands rupiah last year when we went to the same area from your house. but i forgot how to say 'five' in indonesian."
"tapi kok akhirnya mau?"
"well.. actually we were so ready to find another bajaj. eh, tapi baru beberapa langkah ternyata kita dipanggil lagi. so we jumped in."
"are you happy now?" sesaat setelah memperhatikan wajahnya yang sumringah berat.
"you bet i am!!"
*oke deeehhhhhh!!!*
loucee said it on 3:56 AM
Wednesday, February 16, 2005
• jika Jawa adalah koentji, di New York kami temukan pintunya... [wedding story continued]

setelah 2 hari berbalut stagen, di hari ke-3 kami berdua boleh sedikit menghirup udara modern sejenak... :)
hari itu adalah hari terakhir dari seluruh rangkaian upacara pernikahan yang ditutup dengan malam resepsi (sekaligus perpisahan dari kami berdua) untuk para kerabat dan teman-teman. tidak ada ritual, tidak ada sesajen. dimana-mana resepsi sama dengan satu kata... PESTA.
*boleh nengok ke halaman sebelah untuk cerita detail pernak-perniknya.
loucee said it on 4:33 AM
Monday, February 14, 2005
• "Jawa adalah koentji!"

saya adalah orang Jawa. dan meskipun saya lahir di Jakarta raya, mengenyam pendidikan di negeri nun jauh di seberang lautan sana, saya tetap adalah seorang Jawa.
maka ketika akhirnya menjejakkan kaki kembali di tanah air untuk menyiapkan pernikahan saya yang sesungguhnya [somehow, deep inside... saya dan laurent suka merasa bahwa kita ini masih setengah direstui jadi suami-istri ketika memutuskan menikah di City Hall apel besar], saya ditanya oleh orangtua, juga para paman dan bibi tentang pernikahan yang saya inginkan. saat itu dengan mantap saya katakan pada mereka, "saya ingin dinikahkan secara Jawa."
permintaan tsb, kemudian ditanggapi secara serius oleh para sedulur saya. mereka mengerti betul bahwa konsep pernikahan Jawa yang saya minta adalah sebuah pernikahan yang sakral, yang bukan sekedar untuk konsumsi video dan asal-asalan. mereka juga menanyakan tentang kesanggupan laurent untuk mengikuti seluruh rangkaian upacara yang tentunya akan sangat rumit dan melelahkan. saya katakan laurent sangat antusias dan bersedia untuk melakukan apapun yang diminta. 
sebenarnya dari jauh hari kami berdua sudah berbincang panjang lebar mengenai keinginan yang telah lama tersimpan di hati kecil tsb. meskipun banyak orang menilai bahwa pernikahan secara adat [apalagi yang dilakukan dengan sungguh-sungguh] akan sangat merepotkan, bagi saya dan laurent, ia menjadi sangat penting untuk dilakukan. karena laurent bisa jadi lebih kenal latar belakang istrinya, dan saya kelak juga bisa meninggalkan tanah air dengan tenang, karena di penghujung keberadaan saya di pulau yang telah membesarkan saya ini, saya telah diingatkan kembali.. siapa saya, dan dari mana saya berasal.
pernikahan yang akan berlangsung selama 3 hari itu disiapkan selama kurang lebih 2 bulan. tak ada jasa wedding organizer, yang ada adalah sebuah panitia keluarga terdiri dari ayah-ibu, kakak-kakak, paman, bibi, sepupu, dan kenalan dekat keluarga. dua hari pertama dilakukan acara Siraman, Midodareni dilanjutkan dengan Panggih dan Misa Sakramen Pernikahan di gereja yang sarat dengan nuansa Jawa. sementara Resepsi pernikahan di hari ketiga akan mengambil gaya international untuk menghormati budaya laurent.
tentang sesajen dan ruwatan
sebuah upacara adat Jawa yang benar tak akan afdol tanpa sebuah ritual yang melibatkan perangkat sesajen. begitu pula dengan perkawinan saya dan laurent.
7 hari sebelum hari H, bibi saya sudah repot mengingatkan tentang terpasangnya benda-benda sesajen yang dipercaya akan melindungi dan memperlancar jalannya upacara. pesan intinya sih supaya kami berdua berhati-hati dalam setiap langkah persiapan.
banyak hal-hal kecil yang sangat harus diperhatikan. misalnya.. ternyata saya tidak boleh menjemput sendirian laurent yang tiba di cengkareng seminggu sebelum hari H. harus selalu ada yang menemani perjalanan kami berdua kemana-mana. entah supir atau keluarga, yang jelas kami tidak diperkenankan untuk dibiarkan berdua saja. kami sendiri hanya boleh bertemu pada saat penjemputan dan sehari sesudahnya. itupun sudah pake nawar, karena memang kami harus menghadap pastur bersama. setelah 2 hari tsb, kami sama sekali tidak boleh tatap muka, meskipun sms dan telpon jalan terus. padahal menjelang hari H, kami berdua juga anggota keluarga lainnya menginap di hotel yang sama tempat rangkaian upacara dan resepsi berlangsung. laurent dan yang lainnya di tempatkan di lantai 2, sementara saya terpencil sendiri di lantai 7.
selain aturan tatap muka tadi, secara fisik bentuk sajen juga ditempatkan di beberapa titik kamar pengantin tempat saya tidur. ada juga sajen yang harus diletakkan berdekatan dengan tempat saya dirias. katanya sih supaya hasil riasannya nanti membuat wajah saya menjadi pengantin yang manglingi [boleh percaya atau tidak.. you'll be the judge! ;)]
tentang kepasrahan
jauh hari sebelum laurent tiba di jakarta, saya sudah memberikan sedikit pengkondisian untuknya. "just play along ya sayang..." begitu setiap saya menjelaskan ritual yang harus kami jalankan saat upacara. dan dia akan selalu dengan mantap menjawab, "i'll do my best, sayang!"
to my surprise, saya sendiri akhirnya cukup terkesima melihat itikad baik yang ditunjukkan laurent yang bersedia mengikuti seluruh ritual mulai dari didandani pake baju jawa yang tentunya merepotkan, masuk angin saat siraman, mlaku dodok [jalan jongkok], puasa mutih di malam midodareni sampai sungkeman, dst, dst. suami saya bisa menjalankan seluruh rangkaian upacara dengan begitu kushuknya! bahkan waktu upacara injek telor -- dimana biasanya si telur berada di dalam plastik saat diinjak pengantin pria supaya tidak kotor-- laurent meminta agar telurnya dikeluarkan saja. dia bilang "it's going to be meaningless if i break the egg inside the plastic. i want the real thing. i want to do everything right."
tentang pertemuan
saya tidak akan menceritakan detil acara yang kami lakukan disini [bisa-bisa bikin blog baru nanti..hehe..], tapi dari seluruh rangkaian upacara, selain acara Siraman yang sukses membuat saya nangis bombay, acara Panggih lah yang paling banyak menciptakan kupu-kupu menari di perut saya yang semakin singset ini [maklum, habis sakit jadi kuyussh..:)]
Panggih atau Temon, dalam bahasa Indonesianya berarti adalah 'Temu.' disitulah saat dimana si pengantin pria dan wanita untuk pertama kalinya bertemu setelah sekian lama menjalani masa pingitan. waktu itu selain kangen berat karena cuma ketemu 2 hari setelah 2,5 bulan gak ketemu, saya juga teramat sangat excited ingin melihat suami pakai baju pengantin Jawa lengkap.
ketika akhirnya ia muncul bak seorang pangeran Jawa..... aih.. rasanya.. deg-deg PLASZZ!! laurent sendiri terlihat hampir menitikkan air mata melihat saya dengan riasan pengantin Jawa lengkap dengan paes dan tunduk mantul menghiasi kepala duduk sendiri di pelaminan menanti kedatangan sang pangeran. really.. it was just one of the most beautiful moment we've had together. saking senengnya bisa ketemu, sepanjang upacara kami berdua sama-sama gak bisa menahan untuk gak ngobrol bak teman lama, sambil tak ingin melepaskan tangan, meskipun hanya jari kelingking kami yang boleh bertautan... :)
tak ada rangkain kata yang sanggup melukiskan apa yang saya dan laurent rasakan selama 3 hari itu. really...
jika ada yang bertanya pada kami, bagaimana rasanya menikah di indonesia dibanding dengan pernikahan yang kami lakukan di City Hall apel besar... hmm..
we really don't know how to answer it.
bagi laurent ini adalah sebuah pengalaman baru, pun bagi saya... in a different way. "marriage is a serious business!" bisik salah seorang saksi kami di gereja. di apel besar, 'business' itu mungkin hanya memakan waktu 5 menit saja then.. VOILA.. you are a husband and a wife. tapi tidak disini, di tanah kelahiran saya..
loucee said it on 6:05 PM




ARCHIVES
- February 2004
- March 2004
- April 2004
- May 2004
- June 2004
- July 2004
- August 2004
- September 2004
- October 2004
- November 2004
- December 2004
- January 2005
- February 2005
- March 2005
- April 2005
- May 2005
- June 2005
- July 2005
- August 2005
- September 2005
- October 2005
- November 2005
- December 2005
- January 2006
- February 2006
- March 2006
- April 2006
- May 2006
- June 2006
- July 2006
- August 2006
- September 2006
- October 2006
- November 2006
- December 2006
- January 2007
- February 2007
- March 2007
- April 2007
- May 2007
- August 2007


