Wednesday, June 29, 2005
• pamit...

terhitung dari tanggal 1 july, fasilitas sambungan telephone dan internet di apartemen kami akan diputus. itu berarti, saya tak bisa sering online seperti biasa.
kami berangkat dari glasgow tanggal 4 july. dan sesampainya di paris masih harus mencari apartemen. sambil mencari kami akan tinggal di hotel [bener-bener nomaden nih, judulnya]. begitu dapet apartemen juga kayanya masih harus nunggu koneksi internet dipasang. apakah di hotel ada sambungan internet? entahlah... sampai kapan nunggu sambungan internet di apartemen yang baru nanti? masih menjadi misteri...
blog ini akan saya non-aktifkan untuk batas waktu yang saya sendiri tak bisa menjawab. bisa cuma 2 minggu, bisa lebih dari sebulan. tergantung keadaan. mudah-mudahan bisa cepat. saya sendiri pasti akan usaha untuk mencari hotspot, paling tidak untuk cek email. kunci tag board akan saya titipkan pada seorang teman, yang akan segera bertindak kedzaaaamm... kalau ternyata ada yang menyalahgunakan. selebihnya, jika anda merasa sungguh-sungguh amat sangat merindu tak terhankan..*plak!* mungkin saya bisa dihubungi lewat telepati.
until then...
beli palu di pasaraya
dapet pompa sebagai bonusnya
pamit dulu dari dunia maya...
sampe jumpa di pertemuan berikutnya...
salam gula,
~loucee~
[temporarily retired netizen]
loucee said it on 2:08 AM
Monday, June 27, 2005
• postcards from glasgow
so, we are counting days....
5 bulan sudah saya berada di glasgow, dan tak banyak cerita tentang kota ini yang sempat terposting selain cuaca yang gloomy, accent yang terdengar ajaib, makanan yang tak terlalu menerbitkan selera, serta lingkungan yang kotor.
yah.. jika menilik deretan topik diatas memang nampaknya kota ini tidak terlalu menarik untuk diceritakan. but every cities have their own stories [and history]... dan meskipun kota ini terkesan tidak terlalu 'gempita'... saya tetap ingin mendongeng sedikit untuk teman-teman semua. siapa tau berguna kalo pengen kesini, yak?
glasgow adalah ibu kota scotland yang terletak di pantai barat daratan kerajaan inggris. kota ini dulunya [mulai sekitar abad 16] adalah kota terpenting dan terbesar ke-2 setelah london, yang pelabuhannya menjadi pintu gerbang utama impor tembakau dan gula dari benua amerika ke eropa. sampai sebelum perang dunia II, glasgow masih menjadi pusat perdagangan dan industri terpenting yang diperkuat dengan industri pabrik kapas, dan bengkel pembuatan kapal berat, salah satunya adalah kapal pesiar Queen Elizabeth 2 yang bulan April 2004 lalu sempat merapat di new york. as the result, glasgow sempat menjadi kota terkaya di dunia pada jaman itu.
sayangnya, kejayaan kota ini tidak berlanjut setelah perang dunia II. bahkan sampai dua dekade kemudian, glasgow mengalami penurunan ekonomi secara drastis, yang berlanjut terus hingga awal tahun 1980. populasi yang berjumlah 1.1 juta menyusut hingga 600.000 karena banyaknya warga yang eksodus dari glasgow untuk mencari pekerjaan dan kehidupan yang lebih layak di kota lain. bahkan sekarang pun jika anda jalan-jalan di beberapa daerah tertentu, akan banyak menemui daerah-daerah dengan townhouses kosong, reot dan tak terurus seperti ditinggal pemiliknya.
sampai saat ini, glasgow masih menjadi kota dengan jumlah penduduk terbanyak yang hidup dibawah garis kemiskinan [standart UK kayanya, bukan indonesia]. kondisi kesehatan penduduk juga tak terlalu menggembirakan dengan angka penderita penyakit jantung dan kanker yang menduduki peringkat tertinggi gak hanya di UK tapi juga di seluruh eropa barat. saya sendiri gak terlalu surprise dengan fakta ini kalo melihat pola makan glaswegian yang senang menyantap gorengan dengan kandungan lemak yang pastinya tidak rendah (inget deep fried mars bar?)
menurut beberapa glaswegian yang saya kenal, keadaan kota ini sekarang udah jauh lebih baik dibanding awal tahun 90an. saya sendiri sulit membayangkan how this city looked like in the past, karena rasanya mood depresi nya masih tetap terasa di beberapa sudut kota [mungkin karena pengaruh cuaca yang gloomy juga seh]. but according to them, at least pemerintah kota glasgow udah berusaha untuk menghidupkan kembali kota ini dengan berbagai macam local campaign yang bertujuan membangkitkan semangat penduduknya dan terutama roda perekonomian. campaign terakhir yang saya tau karena sering liat bannernya bertengger di alun-alun kota bertajuk glasgow, scotland with style. logonya bagus, hasil karya team-nya Erik Spiekermann dari Meta Design.
berkat usaha pemerintah kota tadi, sejak awal tahun 2000 glasgow sudah kembali menjadi salah satu kota tujuan wisata terpopuler setelah london dan edinburgh. beberapa landmark dan museum yang mungkin menarik untuk dikunjungi disini adalah alun-alun kota George Square yang merupakan tempat berdirinya gedung City Chambers, GoMA yang adalah museum of modern artnya glasgow, Mackintosh House yang dulunya merupakan rumah designer/arsitek kenamaan Charles Rennie Mackintosh, The Burrel Collection tempat saya ketemu sapi gondrong, lalu kompleks Glasgow Science Centre yang modern dan Scottish Exhibition and Conference Centre yang gedungnya sendiri beken disebut 'The Armadillo' dan mengingatkan saya pada teater keong emas di TMII. sementara untuk belanja-belanji ada kawasan Merchant City yang bisa dikunjungi, meskipun menurut saya barangnya mahal-mahal aje karena semua-muanya pake poundsterling.
kalau anda berminat sekolah, dua university yang lumajan bagus dan beken disini adalah Glasgow University yang terletak di sebelah barat kota, dan University of Starthclyde di sebelah timur. saya tak tau pasti major apa yang bagus di kedua sekolah itu. yang jelas, untuk sekolah design, disini ada Glasgow School of Art yang memiliki reputasi sangat baik. gedung sekolahnya sendiri dirancang oleh Charles Rennie Mackintosh dan menjadi salah satu lokasi wajib untuk dikunjungi turis.
sepintas, dari pengamatan sendiri, penduduk glasgow didominasi oleh 2 jenis ras manusia; scottish dan indian. saya jarang ketemu orang asia disini kecuali di lingkungan kampus. kulit melayu apalagi... mungkin selama 5 bulan disini cuma liat gak lebih dari 50 orang. bahasa yang digunakan sehari-hari oleh para glaswegian adalah bahasa inggris dengan dialect sangat khas, yang as you know... pusing untuk dimengerti oleh mereka yang biasa mendengar bahasa inggris dari film2 hollywood. kadang, kalau bicara dengan 'real glaswegian' seperti kondektur kereta, atau supir taxi, mereka sering menyelipkan kosa kata 'gaelic' yang menurut gosip adalah bahasanya bangsa viking yang berabad-abad lampau menyerbu utara scotland. nama 'glasgow' sendiri diambil dari kata gaelic 'ghlaschu' yang berarti 'dear, green place.'
selama di glasgow, kami tinggal di bagian selatan kota. kalo naik kereta, jaraknya sekitar 10 menit dari central station, pusat kota glasgow. kalo naik bus biasa sekitar 20 menit, sementara bus express [namanya City Sprinter dan busnya reot banget kaya dari taun 60an, tapi agresip kaya metro mini] memakan waktu 10-15 menit. subway juga sebenernya ada di city center yang disebut The Orange Clockwork karena warnanya orange dan rutenya ya cuma 1.. clockwork. saya belum pernah naik subway, meskipun menurut teman2 yang sudah pernah, berada di dalam kereta ini seperti masuk ke mesin waktu karena interior keretanya yang terlihat vintage [kayanya gak pernah diganti dari tahun 70-an]
apartemen kami di selatan kota glasgow, berada di daerah yang bernama Pollokshaws East. sedikit susah nyebutnya. apalagi kalo beli karcis kereta, sering pak kondektur gak ngerti saya bilang apa... [suka hopeless deh kadang2 kalo mereka ngga ngerti-ngerti...hhhh]. bangunannya terletak di atas bukit, dan untuk bisa sampe ke train atau bus station, saya harus jalan 15 menit naik turun bukit melalui jalan-jalan tikus yang banyak terdapat di antara bangunan rumah. capek? ho oh! tapi lumajan... exercise gratis gak perlu ke gym.. ;)
asiknya, punya apartemen di atas bukit [dan kita dapet lantai paling atas pula di bangunan apartemen 3 lantai], pemandangannya oke banget, terutama dari jendela dapur yang besar dan menghadap ke arah barat kota glasgow. i may not take a lot of pictures of glasgow city, but i did take tons of picture from my kitchen's window. mulai dari photo sunset yang dramatis, sampai pemandangan glasgow city light.
sementara di jendela satu lagi yang terletak di living room, menghadap bukit kecil berpadang rumput yang kadang-kadang setelah hujan suka muncul pelangi. the first time i saw a perfect curve of a rainbow yang guedeeee banget dari ujung ke ujung... ya dari jendela ini. kadang saya suka membayangkan bahwa di ujung pelangi tsb beneran ada guci berisi koin emas.
unlike new york chapter, tidak banyak memang yang bisa saya ceritakan dari glasgow. mungkin karena sejujurnya saya sendiri gak terlalu excited berada disini.... hihi... but other than that, i do still feel blessed diberi kesempatan tinggal di sini. 5 months is more than enough untuk merasakan jadi glaswegian, and i don't mind to visit this city again someday [berkunjung ya... bukan menetap..], lagipula saya memang harus kembali untuk jemput barang di storage, and hopefully not for more than that. hehehehe...
loucee said it on 3:29 PM
Friday, June 24, 2005
• pindah, neng?
living room saya seperti baru kejatuhan granat. box, buku-buku, barang-barang, juga sampah-sampah sambung-menyambung menjadi satu.. itulah pemandangan persiapan pindahan.
lelah... saya lelah pindah-pindah terus. some people might say... "asik lage, pindah terus. bisa lihat macem-macem...." ah, ya... saya tidak protes untuk bagian yang itu. tapi pas persiapannya itu lhooo.... bergulat dengan box, dan printilan yang harus dipikir.... "masuk box yang dikirim ke paris? atau masuk box yang disimpen di storage di glasgow?"
begitulah memang. tidak semua barang dikirim ke paris. karena tidak ada yang tahu sampai kapan kami berdua akan tinggal di paris, berhubung suami saya harus siap-siap dipindah lagi begitu masa kontraknya habis awal tahun depan. kelak suatu saat nanti, kalau keadaan sudah menjadi pasti, kami akan kembali lagi ke kota ini untuk mengambil yang tersisa.
dalam kesibukan packing, saya sempat berpikir... 8 bulan terakhir, hidup saya sepertinya hanya didominasi dengan kegiatan packing. packing dari new york ke glasgow, dan sekarang glasgow ke paris. rasanya kalo saya sudah tak laku lagi jadi designer, saya bisa ganti profesi jadi professional mover.
karier mover saya mungkin bisa dibilang dimulai dari saat pindah dari kota tempat monas berdiri ke bandung lautan api saat lulus sma. berarti sudah 10 tahun yang lalu. sejak saat itu, berdasarkan kotanya saya pernah melakukan boyongan dengan rute s.b.b:
jakarta - bandung - jakarta - new york city - glasgow dan.. next paris.
ternyata gak sampe setengah lusin. tapiiii... jika dihitung berdasarkan tempat tinggalnya, maka rutenya akan menjadi seperti ini:
jakarta - bandung: kos suryakencana - kos cisitu - kontrakan cigadung - jakarta - new york city: dorm di tarrytown - apartemen queens - apartemen manhattan [72 st] - apartemen manhattan [89 st] - glasgow dan kemudian... paris.
oh, ternyata masih ngga sampe selusin.. *duh, jadi malyu*
tapii.. biarlah. apa arti sebuah jumlah. yang penting pengalamannya itu lho... dan sebagai oknum yang selalu kurang kerjaan, saya jadi tak kuasa untuk membandingkan tingkat kesulitan dari masing-masing pindahan.
pindahan yang terjadi di antara jakarta dan bandung, saya beri nilai 2 pada skala 1 - 10 menurut tingkat kesulitannya. mengapa cuma 2? karena practically pelaksanaannya sangat mudah. barang tinggal di cemplang-cemplung di kantong plastik, dibantu banyak orang seperti pembantu atau teman-teman kuliah yang terjerumus dengan sukses. lalu.. diangkut deh pake mobil. mo bolak-balik juga gak masyalah, yak? deket ini...
pindahan yang terjadi di antara tempat-tempat di new york city memiliki tingkat kesulitan dari 5 sampai 10. dari dorm di tarrytown ke apartemen di queens boleh dikasih nilai 5, karena barangnya masih sedikit tapi harus ngangkut sendiri. nurunin pake tangga dari lantai 4 ke mobil, trus naikin lagi ke lantai 2. sementara yang nilainya 10, terjadi ketika pindah ke manhattan [72 st], dimana apartemennya ada di lantai 6 dan tidak ada elevator! jangan tanya capenya, jangan tanya bete-nya. paru-paru rasanya udah mo meledak ngangkutin barang seperti... monitor 17" misalnya . berdua sama laurent yang masih jadi pacar, pengalaman pindahan itu sungguh tak terlupakan [dan merupakan sebuah pertanda awal bahwa... duh dia mau lho besusah-susah dengan saya. boleh juga nih dijadiin kuli.. eh.. suami..] *ihik*
tapi pindahan yang paling sulit tidak terjadi di apartemen lantai 6 itu, melainkan pada saat pindah dari new york untuk selama-lamanya. nah itu bete! bukan karena barangnya sudah beranak-pinak jadi 18 kardus segede gaban. tapi lebih karena secara mental terjadi penolakan yang dahsyat untuk pindah. beraaattt maaannn... pindah dari new york... akyu tak rela... :(
lalu bagaimana dengan pindahan dari glasgow ke paris ini? menilik dari jumlah kardus, dan liter keringat yang dikeluarkan, boleh dibilang 3 deh. nambah 1 point dari pindahan jakarta-bandung. cukup santai dan terkendali meskipun angkut-mengangkut tidak dibantu pembantu atau teman-teman yang terjerumus. lagipula, semangat dan kegembiraan untuk segera berada di paris lebih mendominasi mood pindah kita kali ini. 11 hari lagi nek... 11 hari lagi... saya mau siap-siap arisan dengan djeng ayu ditemani cairan anggur... hahaa! :D
loucee said it on 1:37 AM
Monday, June 20, 2005
• jangan ganggu banci
minggu lalu, seorang teman sealmamater, yang juga seorang sutradara berbakat mengundang lewat email untuk melihat video yang di sutradarainya di account multiply. video ini adalah music clip dari grup project pop berjudul "jangan ganggu banci" dengan pemeran utama aming sang 'banci-kaleng' ternama yang katanya ternyata pernah satu almamater dengan kami meskipun saya gak pernah ngeliat makhluk ajaib itu berhubung keburu lulus duluan.
waktu pertama kali nonton di screen yang super mini itu [160 x 120 pixel bo!], saya langsung... duh.. selain ketawa terpingkal-pingkal, pikiran saya juga otomatis melayang terbang jauuhhh... ke kampung halaman... rindu dagelan lokal.. *hiks hiks*. alhasil, sejak hari menerima link video itu, hampir tiap hari saya tune in di account multiply sang teman hanya untuk nonton lagi.. dan lagi... sambil ketawa terus... dan terus...
nah, rasanya memang gak adil untuk tertawa bahagia sendirian tanpa bagi-bagi. maka dengan kemurahan hati si teman garis miring sutradara, izinkan saya mempersembahkan video clip ini untuk teman-teman pembaca blog yang tinggal jauh dari kampung halaman. filenya lumajan besar [5 MB] dan cuma bisa dinikmati kalo di computer anda ada quicktime. tapi... sabar itu pelita hati, jadi... gak papalah nunggu sebentar, sebab clip ini bisa jadi obat rindu yang ampuh, beybeh!! selamat menikmati... :)
loucee said it on 6:02 PM
Wednesday, June 15, 2005
• evolusi gaya
seorang teman di jakarta pernah bilang bahwa gaya [rambut, baju, make up dan teman-temannya], gak hanya dipengaruhi oleh kepribadian orang ybs, tapi juga oleh jaman dan lingkungan pergaulannya.
saya manggut-manggut saja ketika ia bilang begitu. tanda setuju. tapi lalu ia bertanya lagi, "coba louc... pernah gak lo mikir, berapa kali lo udah ganti gaya selama hidup lo?"
"banyak lah!" jawab saya asal, "apalagi rambut. dulu kan gue keriting. dan meskipun terdengar gak penting, rambut yang lurus sudah menjadi salah satu misi dalam hidup gue."
"yeah... yeah.. that is the surprise of the century."
"ya maap dong... lo tau dong perjuangan gue meluruskan rambut...khihihii..."
"iyaaa.. tauuuu. tapi selain rambut? gaya lo yang lain pasti berevolusi dong?"
tentu saja! dan menyambung percakapan dengan teman yang di jakarta tadi, saya jadi terdorong untuk membuat entry yang [sekali lagi] tidak penting tentang gaya apa saja yang sudah pernah saya alami dalam hidup saya yang baru '17 tahun' ini *hihi* tadinya saya mo sekaligus posting photo-photo dari jadul sebagai bukti otentik. tapi ternyata gak ketemu, sepertinya nyungsep di salah satu box yang sudah ter-pack dengan rapi siap dikirim ke tanah leluhur suami. jadi... pake illustrasi aja ya, dan periodenya saya mulai dari tahun-tahun terakhir SMA, saat saya baru menyongsong era baru dalam hidup dengan mencicipi teknologi salon bernama.... keriting papan.
gaya sma.
waktu masuk sma sebenernya rambut saya panjang dan tebal. biasanya kalo ke sekolah lebih sering dikuncir. kalo gak, bisa-bisa jadi sasaran empuk kepala sekolah. tapiiiii... kelas 2 sma, saya mengalami putus cinta dengan pacar pertama *aih*... jadi untuk mengembalikan mood yang sempat porak-poranda.. ya saya potong rambut saja. model cleopatra! haha... memilih model ini karena praktis. kalo ke sekolah gak perlu sisiran dan kuncar-kuncir lagi. untuk gaya busana, pada jaman ini sih standartlah. sekolah pake seragam. sementara di luar sekolah, berhubung saya juga males ngikut2 trend, paling pake jeans, celana pendek cargo, kaos... kaos.. kaos.. dan kaos... tanpa asesoris kecuali sepasang giwang dan jam tangan, sama alas kaki sandal gunung.
gaya seni rupa.
ini adalah gaya paling jahiliyah dalam karier mode saya. maklum deh, ceritanya kan baru masuk sekolah SENI RUPA gitu loohh!! lepas dari seragam sma, saya dengan semangat khas anak baru seni rupa tentu gak ingin ketinggalan menampilkan identitas diri sebagai bukan anak tehnik! ceritanya mo sok nyeni. jadi harus beda dari yang lain. pada periode ini rambut saya pangkas habis. di kemudian hari modelnya juga turut berganti-ganti. pernah skin head *oy! oy! oy!* juga pernah berwarna biru. baju yang dipake kebanyakan kaos, jeans gombrong, dan jacket jeans gelap dengan identitas himpunan berupa pin bintang merah tersemat di kerah *duuh.. berasa.. gayanya sejuta!* sehari-hari saya jarang bermake-up, karena menganut paham 'makin dekil, makin nyeni.' asesoris andalan adalah berbagai macam giwang dan anting yang menggantung di 7 titik lubang daun telinga. sementara alas kaki gak pernah jauh-jauh dari boots berwarna hitam, yang semata kaki maupun yang sebetis. pokonya gahar. mana waktu itu kulit saya lagi item-itemnya pula akibat tersengat matahari bandung, membuat saya jadi sering disangka kaya abang-abang.
gaya advertising.
di tahun ke-3 masa kuliah, saya hijrah lagi sekitar 2 bulan ke jakarta untuk kerja praktek (kp). waktu itu saya diterima kp di salah satu advertising agency di bilangan sudirman. pertama kali masuk.. duh, nek! penampilan saya yang sok nyeni tadi kebanting berat dengan mbak-mbak art director atau account service yang mengkilap dan trendy. supaya gak disangka hansip, maka berangsur-angsur saya mulai menyesuaikan penampilan dengan lingkungan yang kinclong. rambut saya rapihkan dengan dibabat habis, dan saya kasih gel biar spikey-spikey. akibatnya memang suka diprotes pacar karena dia jadi sering ketusuk kalo ingin membelai. :) untuk urusan busana, saya jadi sering pake warna gelap. fave one was black turtle neck yang dipadu dengan celana hitam juga. sepatu boots istirahat di rumah, berganti menjadi sepatu-sepatu ber-heels atau ber-platform dan masih didominasi warna hitam juga. gaya advertising ini bertahan sampai saya lulus kuliah dan 1 tahun sesudahnya, waktu saya balik lagi ke jakarta jadi pegawai beneran.
gaya pegawai.
ini gaya paling standart sepertinya. kehidupan saya waktu itu cuma berkisar kantor, pacaran sama dugem. rambut sudah tambah panjang karena gak pernah dipotong selain dirapikan sedikit. sehari-hari ke kantor ya paling pake blouse berwarna netral [cuma item, putih, biru, abu-abu dan coklat] sama jeans. paling kalo mo dugem baru ganti pake baju tanpa lengan dengan model yang standart. jarang pake asesoris selain kawat gigi yang warna karetnya berganti-ganti sesuai dengan musim [pink waktu valentine, merah & ijo waktu natalan, etc]. sementara ke-7 anting yang setia menemani di masa kuliah sudah dilepas karena janji pada ibunda untuk melepas semua pada saat wisuda. sepatu masih hitam but always in heels, demi menunjang tinggi badan yang pas-pasan.
gaya newyorker.
nah.. ini dia... saya baru kenal yang namanya 'bergaya' ya disini ini. sudah pasti karena lingkungan. new yorkers know how to define styles, tentu akhirnya mempengaruhi juga. rambut saya pada periode ini jadi semakin panjang karena salon mahal. selama 3, 5 tahun disana saya ke salon cuma 4 kali, untuk merapihkan dan potong poni. lemari pakaian saya juga mulai dipenuhi dengan baju-baju berwarna permen dengan berbagai macam model dari tanktop sampe coat sesuai musim dan keadaan cuaca. pertama kali beli sepatu bukan warna hitam juga terjadi pada periode ini. sepatu saya warna-warni dari merah, biru, kuning, ijo dengan berbagai model tapi semuanya flat! kebiasaan pake sepatu tinggi di jakarta terpaksa harus ditinggalkan karena... gak kuat aje naik turun tangga subway pake high heels. saya juga baru mengenal berbagai macam asesoris disini, dari anting panjang, kalung, iket pinggang sampe tas-tas centil.
gaya glaswegian.
dengan sangat menyesal, kemajuan gaya yang terjadi di new york ternyata tidak berlanjut di periode ini. disini saya stuck dengan 1 gaya, gaya musim dingin dan hujan berkepanjangan. coba kalo anda lihat photo2 saya di scotland, jacketnya pasti cuma itu-itu aja, yang ijo lusuh kaya warna tentara. mau ganti juga malesssssssssssssssss deh, secara jaket itulah yang paling ampuh menahan udara dingin, angin dan hujan. dengan keadaan seperti ini, saya juga jadi gak terlalu peduli dengan apa yang saya kenakan di balik jaket sakti tersebut. kebanyakan sih long-sleeve atau sweater polos. yang penting anget! asesoris juga udah gak pernah pake kecuali cincin kawin *ihik* sementara sepatu... yang pasti cuma nyaman pake sneakers, karena kalo keluar rumah harus naik turun bukit. gaya ini boleh dibilang terjadi karena murni pengaruh cuaca bukan lingkungan. sebab kalo jalan-jalan di glasgow, para glaswegian itu juga banyak yang dandan trendy kaya newyorkers. tapi gaya mereka tidak terpengaruh cuaca. mau cuma 5 derajat celcius juga tetep aje gitu keliaran pake sleeveless dan rok mini. akibatnya memang disini saya jadi sering terlihat 'aneh' dengan jaket eskimo. but who cares... yang penting anget dan gak masuk angin!
demikianlah kiranya laporan gaya dari saya yang sudah tak bergaya.
ternyata cuma 6. kalo kamyu ada berapaaaa?
loucee said it on 6:42 PM
Monday, June 13, 2005
• chatting yuk!
ayah saya sudah bisa chatting! haha... setelah saling berbalas 'pantun' 2-3 baris lewat email, saya akhirnya mengusulkan untuk chatting saja lewat yahoo messenger supaya lebih praktis, menghemat waktu dan gak menuh-menuhin mailbox. tadinya dia sempat terbingung-bingung, gak ngerti bagaimana harus memulai chatting. tapi kemudian dengan sedikit bantuan dari teknisi kantor -- yang mana selama diperbantukan ia tetap mengirim email-email update berita proses penginstallan saban 5 menit seperti.. 'tunggu ya sedang diinstall..' atau... 'sabar ya.. sedang dibikinin account yahoo,' dsb.. -- akhirnya di menit kesekian, yahoo id nya di friends' list saya berubah warna jadi kuning juga, dan langsung saya sambut dengan gegap gempita..
loucee: hallo... daaaaddddyyyyyyyy.....! selamat datang di dunia maya!
untuk orang seusianya, ayah saya termasuk lumajan up to date juga dalam urusan teknologi komunikasi. ia biasa menggunakan email, surfing situs-situs berita juga tiap hari dilakukannya, dan sekarang ia juga mulai bisa chatting pake yahoo messenger, meskipun banyak terkaget-kaget dengan tampilan ym seperti smileys -- 'lah, kok ada yang nyengir? kalo yang mewek ada juga to, nak?'-- maupun dengan kecepatan anaknya mengetik balasan [ <-- buah manis dari pelajaran mengetik di SMA yang ternyata berhasil menghantar saya menjadi professional chatter instead of jadi sekretaris *hihi*]
berbeda dengan ayah yang nampaknya masih kagok dan sering terkaget-kaget sendiri dengan fitur-fitur aplikasi chatting, keponakan-keponakan saya yang masih SD kelas 1 dan 5 nampaknya malah bisa lebih santai dan gak gegar teknologi. biarpun masih mini, para chatter cilik yang juga baru diajak ayah saya untuk ngobrol lewat jendela cakap maya dengan tantenya ini ternyata dengan mudah langsung bisa memanfaatkan smileys dengan baik dan benar atau menge-buzz dengan membabi buta kalo tantenya kelamaan menjawab. sebuah bukti dari teori yang mengatakan bahwa anak kecil biasanya lebih cepat menyerap dan beradaptasi dibanding mereka yang sudah berumur, terutama jika berhadapan dengan teknologi.
jadi teringat dengan pengalaman seorang teman bernama agi yang tinggal jauh dari kampung halamannya di polandia sana. ia juga biasa berkomunikasi dengan ibunya lewat chatting. suatu hari ketika mereka berdua sedang ngobrol lewat ym, si ibu bilang bahwa sang nenek yang sudah uzur dan kangen berat sama cucunya, pengen ikutan ngobrol juga. si teman yang juga kangen dengan sang nenek langsung mengetik dengan semangat..
agi: hallo nek. apa khabar?
satu menit, dua menit.. hingga menit kelima... tak ada balasan tulisan dari seberang. but a second later, muncullah balasannya...
mom: grandma doesn't want to type.
ternyata pesan masih diketik oleh sang ibu. si teman pikir.. oh ya sudah.. mungkin nenek memang gak mau ngetik di komputer. tapi kemudian ibunya menyambung lagi...
mom: grandma doesn't want to type. she prefers to 'speak' with you. and she just did.
agi: what d'ya mean she just did?
mom: she just put her face an inch away from the computer's screen and shouted... 'hellluuuuuuuuuuu agiiiiiiiiiiiii. grandma iss fiinneeeeeeeeeeeee. how's the weaaatheeeerrr theeeereeeeeee, deaaaarrrrr?'..... she is convinced that you can hear her, and waiting for your reply now... :)
loucee said it on 2:21 AM
Friday, June 10, 2005
• terbunuh sepi
bojoku lungo nang belanda.... [kalo gak tau artinya silahkan buka primbon atau hubungi rekan saya djeng shinta.*hihi*]. ini tandanya akyu harus melewatkan hari-hari nan sepi sendiri sampe ia pulang hari minggu nanti. *tsskk*
gak oke banget deh, jek! saya kan paling malesssssss disuruh sendiri, apalagi kalo malem-malem begini, tanpa suara kehidupan di luar jendela maupun hiburan gak penting di layar kaca [damn! tiba-tiba merindu berat pada teknologi canggih bernama tivi]
waktu masih di apel besar dulu, rasa-rasanya saya jarang merasa kesepian begini. biarpun sempet tinggal sendiri, apartemen saya berada di lantai 2 dan kamar merah saya menghadap persis ke jalan ramai. mau begadang sampe jam 3 pagi juga tetap ramaiii dengan suara mobil, suara para pegawai restoran 24 jam di lantai dasar yang asyik ngerumpi, ataupun suara televisi di dalam kamar yang hidup terus kalau saya di rumah. sementara disini? maaannn..... sunyi senyap ku sendiri.... gak ada suara mobil, suara orang, suara tivi, bahkan sampe jangkrik dan kodok pun juga gak ada. ugh! sudah seperti biarawati saja ini, disuruh kontemplasi... *sigh*
ngomong-ngomong... eh.. tulis-tulis.. tentang jangkrik dan kodok, saya jadi merindu pada rumah orang tua di kampung halaman. saban malam pasti ramai dengan orkestra kedua makhluk hidup tersebut. jadi seandainya pun gak ada orang di rumah, saya tetap merasa nyaman karena tetap ada suara-suara yang menandakan ada kehidupan lain selain saya. disini, saya jarang mendengar suara binatang-binatang kecuali burung-burung di saat matahari masih bersinar, atau gonggongan anjing yang lewat di sore hari saat dibawa jalan-jalan pemiliknya. gak usah binatang yang besar-besar deh... bahkan di dalam rumah pun saya juga gak pernah tuh liat serangga. mo naro permen di meja sampe seminggu juga gak akan dirubung semut. padahal di saat-saat sendiri begini, saya perlu melihat ada kehidupan lain selain saya.. termasuk kehidupan sekelompok semut sekalipun.
sebenernya kesepian di rumah begini adalah akibat dari pilihan saya sendiri *uugghhh.... semakin kesal!!*
tadinya... suami saya sempat menawarkan, "mo ikut?"
trus saya bilang, "ngapain disana?"
dia jawab lagi, "ya saya conference."
saya tanya lagi, "sama siapa conferencenya?"
dia bilang lagi, "ya sama scientist-scientist dari europe lainnya."
dan.. sayaaaa.. dengan otak saya yang tak bisa berpikir panjang dan cuma bisa mikir berkumpul dengan para scientist adalah sebuah kegiatan yang pastinya sangat membosankan...... akhirnya menjawab dengan pongahnya, "GAK MAU, AH! gak ROCK N' ROLL!"
BLAAARRRR!!!! makan tuh rock n' roll! :(
loucee said it on 12:09 AM
Sunday, June 05, 2005
• 'the rubber hour'
suami saya punya anggapan bahwa orang indonesia sulit menghargai waktu... [mari kita menguap bersama sodara-sodara..."HOOOAAEEEMMMM"]
mulai dari janjian ketemu orang untuk makan siang di mal ["ok, what time did you say we are suppose to meet her? at one? this is already 1.30"], janjian di spa ["the receptionist asked me to wait for another 20 minutes in my bathrobe], janjian dengan taxi ["i had to wait for 45 minutes after the hotel called the taxi company"], atau video pernikahan kami yang dijanjikan akan jadi 2 bulan setelah menikah tapi ternyata baru jadi minggu lalu dan baru dikirim hari jumat kemarin.
"i almost forgot that our wedding was recorded..." katanya waktu saya bilang bahwa video pernikahan kami sedang dalam perjalanan melalui pos ke sini... "what is it with you people? segitu susahnyakah kalian menghargai waktu?"
"hmmm...."
"i just don't get it.. i still remember the time i was in indonesia, people were very flaky and seems that they have problems in keeping their own words most of the time."
"hmmm..."
"saya gak kebayang, kalo waktu sudah tidak dihargai dari hal-hal kecil seperti janjian makan, gimana bisa menghargai hal-hal yang lebih besar?"
"hmmm..."
"kamu kok... hmmm-hmmm.. aja sih tanggepannya? this is your country that i'm talking about. i'm sure there're gotta be some explanations behind all."
"aduh.. maap deh, bang. udah lama sih ijk gak denger orang complain macem begini. lagipula... ini lagu lama. semua orang juga tau itu."
"... and nobody say anything about it and most important is.. want to change it?"
"..ya ada sih. gak semua orang indonesia kaya begitu, kok"
"ah..ya.. i'm not judging that every indonesians are like that. paling tidak kamu termasuk orang yang gak hobby ngaret, and i think most indonesian friends we have in new york juga lebih bisa menghargai waktu. saya cuma heran kenapa masalah itu cuma terjadi waktu saya di indonesia aja?"
"mungkin karena kebiasaan.. kale. kalo lingkungannya terbiasa ngaret, kayanya orang yang gak biasa ngaret jadi suka kena imbasnya juga."
"jadi masalah kebiasaan ya? kenapa gak dibiasakan dari kecil untuk tidak ngaret? kamu sendiri kenapa bisa gak hobby ngaret?"
"moi?"
"oui.. kamu! padahal kamu lahir dan besar di indonesia?"
"hmm... mungkin karena saya diajarin tepat waktu ketika masih di smp-sma. suster kepala sekolah saya dulu galaknya minta ampuuuunnn... telat satu menit itu big deal banget. bisa langsung diseeksahh!"
"ah, kamu hiperbola.."
"oh, memang... hahkahakhaakkk.. tapi ini beneran, bang! jaman saya sekolah tepat waktu itu penting banget.. banget.. banget... datang 1 menit setelah bel berbunyi langsung dihukum. gak peduli saat kelas baru dimulai pagi hari, atau saat extrakurikuler diadakan sore hari. semua murid kayanya takut banget tuh sama si suster kepala sekolah. dimarahin sama dese bisa berarti kiamat dunia. nah, bayangin... saya sekolah disitu selama 6 tahun. dididik setiap hari dengan cara seperti itu... menghargai waktu. kalo sampe telat.. duh! rasanya... jantung modar! jadinya sampe sekarang ajaran itu gak cuma nyantol tapi jadi kebiasaan. kalau saya janjian dengan orang, sebisa mungkin saya datang 10-15 menit sebelumnya. seandainya ternyata bakal meleset, tentu saya akan memberitahu si teman janjian sebelumnya. kalo saya lagi di jakarta dan gak bisa memperkirakan waktu tempuh perjalanan karena faktor macet, saya lebih baik ngasih tau mereka jam berangkat dan lokasi asal berangkat instead of menjanjikan bisa tiba jam berapa di tempat janjian. pada akhirnya ini masalah kebiasaan aja sih."
"harusnya semua orang indonesia sekolah di tempat kamu."
"ah, gak enak... basi! gak ada lakinya! hakhakhakakkk...."
"atau paling gak, dididik sama kepala sekolah kamu yang killer itu."
"emang gampang? pastinya gak semudah itu untuk ngerubah. apalagi kalo ngaret itu udah bagian dari budaya."
"but.. that is one really bad habit..."
"oh i know. tapi saya punya teori asal njeplak nih, bang. tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya tapi saya yakini kebenarannya."
"apa tuh, neng?"
"SAYA YAKIN... bahwa karakter sebuah bangsa itu berkaitan erat dengan kondisi geografis alamnya."
"lho, kok jadi pelajaran geography?"
"sabar dulu bang... maksudnya begini, mereka yang tinggal di negara 4 musim biasanya akan lebih tepat waktu dibanding mereka yang tinggal di negara 2 musim. kenapa? karena yang tinggal di 4 musim itu cuma punya persediaan makanan pada musim-musim tertentu saja. mereka kudu.. harus.. dan wajib beybeh mentaati jadwal yang digariskan alam; menanam pada musim semi, menuai pada musim panas, menimbun pada musim gugur, dan basically just eat whatever you've produced in the previous season pada musim dingin. kalo jadwal ini tidak dipatuhi, resikonya gak ada persediaan makanan = kelaparan = ko'it. makanya orang-orang jadi terbiasa untuk mematuhi dan menghargai waktu gak cuma di urusan tanam-menanam tapi juga di urusan lain."
"emang kalo di indonesia gak gitu?"
"ho.. ho... ho. tanah kita pan subur makmur gemah ripah loh ji nawi. tanpa musim dingin, banyak matahari, banyak hujan dan temperatur stabil. kapan aja lempar biji cabe di halaman juga abis itu tumbuh cabe. lempar biji pepaya langsung tumbuh pepaya."
"ah, kamu hiperbola!"
"lho.. memang! hkahakhakakk..... tapi intinya ya begitulah, bang. kami tidak dibesarkan sebagai bangsa yang selalu dikejar musim dan waktu. kami terbiasa untuk 'santai-santai' saja dulu, toh entar cabenya tumbuh, bukannya kami tidak menghargai waktu orang lain, tapi... ah, tidak ada yang berkeberatan, bukan? kecuali kalo tinggal di negeri orang... nah.. baru deh.. beramai-ramai lebih sadar waktu. merubah kebiasaan demi menghindari pelototan para penduduk asli bermuka pucat dan bermata hijau seperti kamyuuuu!!!"
loucee said it on 3:18 PM
Wednesday, June 01, 2005
• unsocialite
saya masih ingat pembicaraan melalui telephone tiga tahun lalu dengan seorang kawan dari SMA, "si betty sekarang udah married louc, buntutnya 2. si tuti kemaren ketemu di plaza senayan. kayanya masih single tuh, kerja jadi accountant. trus.. siapa lagi ya... oh.. paling si bella sama noni. gue sering liat mereka di majalah."
"di majalah?" tanya saya, "emang mereka kerja apaan? photo model?"
"oh gak... ya masuk majalah aja."
"iye.. majalah apaan? masa gak ngapa-ngapain bisa masuk majalah?"
"oh, lo belom tau ya? disini sekarang banyak majalah pergaulan gitu. isinya ya tentang 'who, what, where' gitu. photo-photo semua. gak penting benernya. gue juga cuma baca kalo lagi di salon." katanya sambil cengengesan.
saya masih ingat ketika akhirnya membuka majalah yang dimaksud setahun kemudian saat pulang kampung dan lagi nyalon di salon tetangga. halamannya dipenuhi dengan photo-photo orang. sectionnya dibagi berdasarkan event; pembukaan gallery, some club anniversary, fashion show designer beken, someone's birthday or wedding party, atau independence day gathering of an embassy, etc. sebagian saya kenali wajahnya karena mereka adalah photo model, penyanyi, bintang sinetron atau pengusaha beken. tapi lebih banyak lagi yang asing, membuat saya bertanya-tanya dalam hati... who are these people?
"di jakarta mah gampang lagi kalo mo masuk majalah!" ujar seorang teman yang bekerja di sebuah advertising agency sambil membuka lembaran 'majalah pergaulan' tersebut ketika kami sedang reuni kecil di sebuah kafe plaza senayan. "cukup datang ke event yang tepat, dandan yang keren, cantik dan kalau bisa bermerek, and the rest is about attitude." katanya lagi.
saya memperhatikan halaman majalah yang sedang ia buka... hey, ada photo bella di halaman itu! what is she now?
"socialite." katanya lagi. "creme de la creme. mungkin dia anak konglomerat?"
"wa..nda tau ya. yang pasti bapaknya bukan donald trump."
"atau suaminya pengusaha beken?"
"itu gue lebih gak tau lagi, jek!"
"atau emang hobby tampil aja kali yeee?"
"kurang kerjaan!"
"cck... duh lo kaya lupa aje deh! di jakarta everything is about image, remember? and being featured in a magazine is important for some people."
"iye tapi kan lucu... gak ngapa-ngapain kok ya masuk majalah?"
"yah.. namanya juga maintaining image. yang penting tampil, bo!"
"majalahnya juga kurang kerjaan. kaya gak ada topik lain yang bisa dibahas. lagian siapa sih yang mau beli? harga majalahnya juga gak murah kan?" ujar saya sengit.
"banyak lagi. yang pasti orang-orang yang muncul di halaman majalah ini pasti beli.. hehe... trus.. salon sama kafe kaya gini sih juga pasti langganan, biar pengunjung ada bahan bacaan ringan. kan males kalo disuguhin bacaan yang disuruh mikir. orang mau santai dan kongkow sama temen kok..."
"ya, gak usah disediain majalah kalo kafenya dibuat supaya bisa nongkrong sama temen. ngobrol dong! masa baca majalah?"
"majalah begini juga bisa buat bahan ngobrol lagi.... buat bahan celaan tepatnya!" ia terkekeh.
situasi majalah [yang sama] menjadi bahan celaanlah yang terjadi ketika saya reuni lagi di kafe yang sama beberapa minggu berselang. kali ini dengan sepasukan teman dari jaman SMP. bayangkan scene-nya; 1 'majalah pergaulan' terbuka di tengah meja, dirubung 5 perempuan bawel, dikaruniai lidah yang terasah tajam dan meyakini kegiatan mencela sebagai sebuah kebutuhan dasar. the result was brutal. tak ada wajah dan sosok yang terpampang di halamannya yang bisa selamat dari komentar. termasuk diantaranya adalah seorang kawan lama bernama bella.
-----------------------------
"i spotted you on a magazine!" tulis seorang sahabat melalui email.
"your wedding was spectacular. i read about it a while ago in a magazine." seorang kawan lain meninggalkan offline message di yahoo messenger.
"gitu lo ye... pulang kampung gak bilang-bilang. kawin gak ngundang-ngundang! hehe... tapi gak papa deh. it's good to see your face again meskipun cuma di majalah. congrats! udah jadi socialite lo sekarang.... hope to see you again in the future." tulis seorang teman SD melalui friendster.
saya tercenung ketika dalam sehari menerima message-message tsb. geez... i'm now in THAT magazine. i knew it was coming when a cousin told me di malam midodareni. meskipun saat itu saya cuma bisa bertanya-tanya sendiri, dan semakin terheran-heran ketika si orang majalah yang dimaksud menyalami saya di malam yang seharusnya hanya dihadiri para saudara dan kenalan dekat keluarga. she was a nice and very polite person though. don't get me wrong and i didn't think she was trespassing the event or anything.
di kemudian hari saya tau bahwa ia bisa hadir karena ada sebuah perjanjian kerja sama antara majalah tempat ia bekerja dan hotel tempat acara pernikahan saya diadakan. as simple as that. sisanya tidak penting... bahwa akhirnya wajah saya dan suami terpampang di 4 halaman 'majalah pergaulan' tersebut tak lantas membuat saya jadi socialite. saya masih seorang loucee yang bukan anak konglomerat, atau bersuami seorang pengusaha terkenal. bukan juga pemain sinetron, model ataupun penyanyi [kecuali di kamar mandi]. but, i'm just loucee.... graphic designer dan juga blogger yang sering menulis hal-hal gak penting di blognya seperti yang sedang anda baca sekarang... hehe.. :)
loucee said it on 5:39 PM




ARCHIVES
- February 2004
- March 2004
- April 2004
- May 2004
- June 2004
- July 2004
- August 2004
- September 2004
- October 2004
- November 2004
- December 2004
- January 2005
- February 2005
- March 2005
- April 2005
- May 2005
- June 2005
- July 2005
- August 2005
- September 2005
- October 2005
- November 2005
- December 2005
- January 2006
- February 2006
- March 2006
- April 2006
- May 2006
- June 2006
- July 2006
- August 2006
- September 2006
- October 2006
- November 2006
- December 2006
- January 2007
- February 2007
- March 2007
- April 2007
- May 2007
- August 2007


