Friday, January 27, 2006
• malu berbicara?
di awal, saya tak terlalu sadar kenapa si teman lebih memilih menjadi penonton yang duduk manis ketimbang terlibat dalam percakapan. baru setelah acara ngumpul usai, dia curhat... "aduh, gue grogi banget louc duduk semeja sama bule-bule itu... bahasa inggris gue kan masih belepotan. malu euy... ntar malah diketawain..."
jujur, saat itu saya agak bengong mendengar curhatannya. hare gene masih takut diketawain gara-gara merasa bahasa inggris masih belepotan? gak mungkin! saya tau banget teman saya itu bisa bahasa inggris. kalo gak, mana mungkin dia bisa diterima bersekolah di universitas di inggris. saya gak kebayang apa yang bakal terjadi begitu dia mulai sekolah nanti. masa jadi gak bisa ngobrol sama dosen yang notabene bule dengan alasan malu? rugi dong!
curhatan sang teman tempo hari itu, tak pelak mengingatkan saya pada situasi yang saya temui di language school di new york dulu. dalam urusan ngobrol dalam bahasa inggris, para pelajar di sekolah bahasa yang sempat saya huni selama 8 minggu tersebut bisa terbagi menjadi 2 kelompok besar. kelompok pemalu dan kelompok pemberani.
kelompok pemalu lebih banyak didominasi oleh pelajar asia. sementara gerombolan pemberani [yang sebetulnya secara kelakukan lebih malu-maluin.. ;P] lebih banyak terdiri dari pelajar yang datang dari eropa. padahal secara level, berdasarkan hasil placement test, kemampuan bahasa inggris pelajar asia rata-rata lebih baik dari para pelajar eropa. terbukti dengan ditempatkannya mereka di kelas yang lebih tinggi [level 5-7] dibanding pelajar eropa yang biasanya masuk kelas level 1-4.
saya pernah membahas tentang fenomena ini dengan teman-teman yang dari eropa. kesimpulan kami... di atas kertas, kemampuan pelajar asia mungkin lebih baik dibanding mereka, tapi apa yang membuat mereka jadi pemalu adalah karena faktor takut membuat kesalahan pada saat berbicara! akhirnya selama di language school itu, para pelajar asia lebih sering ngumpul dengan teman-teman senegaranya, dan berbicara dalam bahasa mereka sendiri. sementara pelajar eropa lebih nyampur dan gaul satu sama lain. tidak ada rasa malu dari mereka baik yang level 1 maupun 7. biarpun beda bahasa ibu [spanish, italian, german, french], dan biarpun grammar bahasa inggrisnya acakadul, teteuupp.... yang penting ngobrol!!! karena justru dari ngobrol itulah, kemampuan bahasa inggris bisa jauh lebih berkembang ketimbang jadi siswa teladan di kelas.
saya sendiri... jujur saja... sampai saat ini tidak merasa bahasa inggris saya jago-jago amat. meskipun 5 tahun sudah saya tinggal di luar indonesia, i still do many mistakes when i speak or write in english. kalo anda jeli, anda pasti akan banyak menemukan kesalahan dalam kalimat-kalimat inggris yang saya ucapkan atau saya tulis. but... peduli amat! selama bule yang saya ajak bicara ngerti maksudnya, saya tetep akan tancap terusssss!! :) kenyataannya bule sendiri juga banyak kok yang melakukan kesalahan grammar saat berbicara. jadi udah gak jaman deh kalo sampe takut diketawain apalagi takut dikritik [emang di indonesia, dimana orang-orang kayanya hobi banget ngetawain dan mengkritik mereka yang bahasa inggrisnya suka ngaco?]. toh... bahasa inggris bukan bahasa ibu kita, jadi kalo ada kesalahan disana-sini ya wajar-wajar saja. percayalah... para native speakers itu juga bakal maklum dengan bahasa inggris kita yang tidak sempurna. yang penting adalah terus mencoba dan jangan pernah berhenti belajar! setuju?
loucee said it on 2:05 PM
Monday, January 23, 2006
• apartemen
apartemen kami yang sekarang, boleh dibilang adalah apartemen terbaik yang pernah kami huni. it's a two bedrooms fully furnished modern apartment yang terletak di lantai 8 sebuah gedung di pusat kota Newcastle. the building itself yang bernama 55 Degrees North, ternyata juga menjadi salah satu icon yang cukup terkenal di kota ini. sehingga ketika saya menjawab pertanyaan seorang teman disini yang ingin tau saya tinggal dimana, tanggapan yang saya dapat adalah... "gaya, euyyy....!" ;)
tapi... apartemen yang gaya tidak lantas membuat penghuninya ikutan bergaya juga. at least, it didn't happen to me on our first days after we moved here. sebaliknya, saya malah jadi agak kampungan dengan segala kecanggihan fasilitas yang kami dapat di rumah baru.
hari pertama, kami sempat terbingung-bingung mencari tombol untuk membuka gerbang pintu masuk apartemen saat didrop supir taxi. masalahnya gerbang setinggi 2 meter itu tidak ada tombol bel atau penjaga sama sekali. sampai taxinya pergi, kami berdua masih juga stuck di depan pagar, gak bisa masuk rumah sendiri. baru setelah kami memperhatikan beberapa anak kunci yang kami dapat dari agent, ternyata 'kunci' untuk membuka pagar automatic tsb ada disitu dalam bentuk tombol mobil-mobilan yang saya pikir adalah gantungan kunci biasa.
kampungan berikutnya terjadi begitu kami sudah berhasil melewati pagar, hendak masuk ke lobi utama. sebelumnya, ibu agent sudah memberitahu bahwa untuk masuk pintu lobi, kami harus menggesek kunci khusus berbentuk lempengan di sensor magnetic kotak videophone. so, that's what i did.... but the door was still locked. berulang kali saya mencoba menggesek kunci dengan berbagai macam gaya. dari yang lemah lembut lengkap dengan senyum manis sampai yang super cepat seperti tukang sulap.. pintu masih belum juga terbuka. later on, saya baru sadar... ternyata saya tidak menggesek kunci di sensor, tapi malah di depan camera! yang lebih parah di kemudian hari saya baru tahu bahwa camera tsb terhubung dengan monitor di ruang security apartemen. kebayang... pasti saya terlihat bodoh sekali kalau ada penjaga apartemen yang kebetulan melihat. *hiks*
kampungan yang ketiga, terjadi di dapur apartemen yang kompornya memiliki permukaan rata berlapis kaca. suatu kali, setelah kekenyangan makan telur dadar buatan sendiri, tiba-tiba saja saya mencium bau gosong dari arah kompor. dasar lemot, saya tak juga beranjak dari meja makan. karena saya pikir bau tsb datang dari wajan bekas menggoreng telor yang memang agak gosong *hihi* :D 1 menit, 2 menit... sampai 5 menit berikutnya... tiba-tiba saja saya melihat ada asap dari arah kompor. waks! ternyataaaa... lap piring yang tak sengaja saya taruh di atas kompor rata yang bentuknya lebih mirip meja itu sudah gosong terbakar. *sigh*
kampungan yang keempat [dan sepertinya yang paling memalukan], terjadi hari jumat kemarin. saya sedang bekerja dengan tenang di depan komputer ketika tiba-tiba saja terdengar suara alarm meraung-raung dari dalam apartemen. setengah bingung, saya bangkit dari tempat duduk untuk mencari sumber suara. seluruh peralatan elektronik yang ada di apartemen saya cek, tapi hasilnya nihil. masih sambil berdiri bingung, saya mendongak ke langit-langit apartemen.... dan menyadari.... bahwa bunyi alarm super stereo itu berasal dari smoke detector yang menempel di atas kepala saya! ini berarti... berarti.... alarm KEBAKARANNN!!!!! WAKKSSS!!!! tergopoh-gopoh saya langsung berlari mengambil paspor di kamar tidur dan ngibrit keluar pintu apartemen menuju tangga darurat di lantai 8!
saya sudah menyangka bakal ketemu para penghuni lainnya begitu sampai di lobi lantai 1. tapi ternyata... instead of menemukan segerombolan tetangga yang sama-sama sedang menyelamatkan diri dari kebakaran, saya malah disambut dengan tatapan heran bapak concierge yang bengong melihat saya terengah-engah keluar pintu tangga darurat dengan rambut kusut dan paspor di tangan.
"wh...wh..wha... wha..... what's going on???" tanya saya dengan napas senen-kamis.
"what's going on?" bapak concierge malah balik bertanya ke saya.. "are you okay?"
"the.. the.. alarm!!! the fire alarm!! there's FIRE in the building!!!! FIREEE!!" ujar saya setengah teriak.
"fire? in the building?"
"yeaahh!! yeaaahhh!!! FIREEEEE!!!"
bapak concierge menatap saya bingung... but, sedetik kemudian tiba-tiba saja tawanya meledak... "you must be the new tenant, yes??"
"errrr.... yeaaaa...."
"aduh.. maaf. saya tidak bermaksud membuat anda panik. but we run a test for fire alarm every friday at 2 o'clock." katanya sambil menahan tawa.
"HEH??"
"yes ma'am. setiap hari jumat jam 2 siang alarm kebakaran akan dibunyikan. just to make sure that it works properly. so, don't worry. there's no fire in the building. you can go back to your apartment now"
"eeeeerrrrrrr.... oke deh... ehmm.. makasih...." <--- sumpah tengsin beratzz!! *sigh* :(
loucee said it on 3:36 AM
Wednesday, January 18, 2006
• kangen...
beberapa hari sebelum saya ke new york, saudara-saudara saya banyak yang berkomentar... "wah, tinggal di luar negeri gak ada makanan indonesia, nanti kangen trus jadi susah makan lagi, louc..."
waktu itu saya cengar-cengir saja. yang menjawab malah ayah saya, "loucee? susah makan? sepertinya tidak mungkin. anak ini kan pemakan segala, ya gak louc?"
betul banget, pak!
saya memang tergolong manusia yang senang makan. lidah saya pun mudah terpuaskan oleh segala macam jenis masakan selama ada unsur dagingnya. jadi, tinggal di luar negeri tidak lantas membuat saya kurus kering akibat kangen masakan indonesia. paling saya kangen makan bakso blok S, but no biggie lah. masih ada bakso vietnam untuk menggantikan.
selama tinggal di new york, jenis makanan yang saya konsumsi pun berganti-ganti setiap hari. hari ini jepun, besok chinese, lusa italian, etc. masak sendiri atau beli tidak masalah. karena di new york semua jenis makanan dari seluruh dunia tersedia lengkap. kalo lagi kepengen makan makanan indonesia pun juga gampang. saya tinggal naik subway ke restoran padang di queens atau tempat jual nasi rames di warteg indonesia, atau kalau lagi niat masak, tinggal ke supermarket indonesia untuk beli bumbu-bumbu instant munik atau indofood.
lalu saya pindah ke glasgow. tentu, segala kemudahan yang saya nikmati di new york tak lagi bisa dinikmati di kota ini. tapi saya masih santai. berbekal stok bumbu instant dan royco yang saya boyong dari new york dan juga indonesia, lidah saya tetap bahagia. hampir setiap hari saya masak makanan indonesia. kalau sedang bosan saya membuat variasi jenis masakan ala 'negeri lain'. tambah kikkoman jadi japanese food, tambah fish sauce jadi thai food, dan tambah herbs de provence jadi french food. sesekali saya juga membeli roti baguette dari supermarket yang biasanya dimakan suami saya sambil protes. "baguettenya gak enak! gak kaya di perancis." katanya.
buat saya waktu itu, komentar suami saya yang merindukan makanan perancis itu sungguh menggelikan... "ah, kamu manja! baguette ya dimana-mana rasanya sama. namanya roti emang bisa beda apa rasanya?"
saya memang sok tau banget waktu itu. sebab begitu sampai di paris, saya baru merasakan roti baguette fresh from the oven dari boulangerie. rasanya nikmat, apalagi kalo dimakan dengan masakan perancis asli lainnya. it's like a taste created in a different world. selama 6 bulan tinggal di perancis, saya pun jadi sibuk memanjakan lidah dengan membuat hidangan perancis saja. royco dan bumbu-bumbu instant tergantikan posisinya dengan keju, pate, saucisson, dan wine. my tongue was living in heaven then. never really across in my mind, that after leaving paris for good, my tongue was about to get a 'wake up call'.. by tasting the reality that is called... the british food.
2 minggu yang lalu...
saya sampai di newcastle dengan hanya berbekal baju untuk 10 hari. we were trying to fly light. seluruh barang lain termasuk stock bumbu masakan indonesia dan perancis dikirim lewat container. kata orang mover, containernya bakal sampai dalam waktu antara 10-21 hari. tak pernah terpikir oleh saya bahwa 2 minggu setelah kami tiba, akan menjadi sebuah perjuangan tersendiri untuk menyesuaikan selera makanan di negeri ini. because yes... i have to eat whatever available in this country.
now... fish and chips or any other brits' cuisine in general are definitely the kind of food that we both hate. jadi saya mencoba untuk memasak makanan perancis dengan bahan-bahan yang bisa saya temukan di supermarket. tanpa bantuan herbs de provence tentu 'rasa perancis' dari segala jenis makanan yang saya coba masak akan berkurang jauh. tapi saya masih menaruh harapan saat membuat salad yang seharusnya dengan dressing olive oil dan balsamic vinegar bisa langsung terasa 'perancis'nya. well... it actually didn't happen. saya baru menyadari bahwa sayur-sayuran mentah inggris ternyata beda dengan yang di perancis. sayur yang saya temui di supermarket sini tidak berbau dan tidak ada rasanya. mengunyah salad inggris sama seperti mengunyah sayuran plastik. it tastes like... errr... nothing! dan roti baguette yang saya beli untuk menemani salad juga kini jadi terasa beda.
"i've told you that the taste of british baguette and vegetable sucks!" kata laurent.
esok harinya, saya ke chinatown newcastle yang panjang jalannya cuma 200 meter. untuk mengganti makanan perancis yang sudah tak mungkin lagi didapatkan disini, saya sudah niat untuk kembali ke selera asal nusantara dengan mencari bumbu instant di satu-satunya toko grocery disana. well... guess what? selain indomie dan sambel kokita, saya tak menemukan produk berbau indonesia lain disana. sebetulnya saya sudah memprediksi ini sebelum masuk toko. namun di hati kecil saya tetap tersimpan harapan... kali-kali aja ada. but... ketika harapan itu tak jadi kenyataan, tiba-tiba saja ada perasaan rindu menyeruak menusuk kalbu. bertahun-tahun setelah meninggalkan tanah air, untuk pertama kalinya saya bisa bilang... "duh, gusti... saya ingin pulang... saya kangen makanan indonesia..." :(
loucee said it on 2:00 AM
Friday, January 13, 2006
• hello from Newcastle!
saya tak akan bercerita tentang pindahan tempo hari, karena kisahnya terlalu lancar, tanpa tragedi 'anak gajah thailand', cenderung membosankan, dan pasti tidak menarik untuk anda. saya saja sampai ternguap-nguap ketika mencoba menulisnya...zzzzzzzz
anyway... HALLO! apa khabar? :)
saya sudah sampai dengan selamat di Newcastle. sejak sampai disini lebih dari seminggu yang lalu, saya cuma pernah melihat matahari dan warna biru menghias langit selama 1 hari saja. sisanya kelabu.. bu.. bu...! tapi, hey... strahlah... namanya juga daratan Inggris. sebelum berangkat saya sudah menempa mental dengan berulang kali mengucap mantra... "mendung bukan berarti kiamat." sehingga saya jadi tak terlalu bete atau mengalami 'gegar cuaca' seperti saat pindah ke Glasgow dulu. meski lagi PMS, mood saya ternyata tetap tralala trilili. mungkin karena suasana baru, dengan apartemen baru, pemandangan baru, dan orang-orang baru di sekitar saya yang super ramah dan tidak berbicara dalam bahasa planet. now... that's a good news pour moi, eh? :D
sekarang, perkenankan saya memperkenalkan hometown saya yang baru ini...
nama lengkap: Newcastle Upon Tyne, memakai embel-embel 'Upon Tyne' karena kota ini terletak di tepi sungai Tyne.
nama pendek: Newcastle. bacanya NYUKASEL, bukan Nyu Kastel.
penduduk asli: disebut Novocastrians. tapi istilah 'Jordy' lebih sering dipakai. mengapa disebut demikian? silahkan cek sendiri ke wikipedia. yang jelas, tidak ada hubungan dengan penyanyi cilik Jordy pelantun tembang wajib untuk belajar bahasa perancis berjudul Dur Dur d'etre Bebe.
landmark kebanggaan: Gateshead Millenium Bridge, yang punya nickname The Blinking Eye Bridge karena salah satu bagian jembatannya bisa bergerak naik-turun. kalau malam terlihat sangat cantik, deh... dari jendela apartemen kami.
tempat kebanggan lain: The Metrocentre, sebuah mal yang diakui sebagai mal paling gede se-europe [kata laurent, penting untuk diumumkan kepada sanak-saudara di Jakarta yang hobi ke mal... kekekekeke....]
makanan lokal: fish & chips <- tidak enak!
agama & kepercayaan lokal: sepak bola! dengan Newcastle United sebagai obyek yang disembah dengan sangat khusyuk kalau sedang bertanding.
bahasa lokal: ENGGRESSS!! dengan accent yang pada umumnya terdengar friendly di telinga indonesah saya [kecuali kalo ketemu suku Jordy asli yang memiliki bahasa sendiri yang sangat ajaib].
busana lokal: kulit! as in kulit yang memiliki bulu dan pori-pori bukan yang terbuat dari latex. para wanita disini menganut faham berbusana semakin minim semakin trendy... dalam kondisi cuaca apapun dan temperatur berapapun pokoknya pantang munduuur!!! ya.. ya.. saya kembali menjadi eskimo nyasar di negeri ini.
but all and all... it's gooooooddd to be here and may God Save The Queen! ;)
loucee said it on 1:25 PM
Monday, January 02, 2006
• au revoir france!
seperti biasa... this is part of the moving ritual...
saya pamit dulu dari dunia maya berhubung koneksi internet di rumah akan diputus esok hari.
we are leaving for Newcastle the day after and hopefully i can get connected again very soon.
so... 'til the next posting from the new land... take care everyone! :)
*bisous*
~loucee~
loucee said it on 6:25 PM
• dear ayu...
teringat di hari pertama saat saya menjejakkan kaki di kota nan cantik ini...
berdiri kelelahan disamping tumpukan kopor di sebuah sudut stasiun Chatelet yang ramai. saat itu hp saya berbunyi, dan sebuah pesan singkat tertera disana... "BIENVENUE EN FRANCE" tulismu singkat...
bagi sebagian orang, tulisan itu mungkin hanya bermakna basa-basi. tapi tidak untukmu. ucapan Selamat Datang itu sungguh-sungguh dapat saya rasakan betapa kamu membuka tanganmu lebar-lebar dan membiarkan saya, sosok asing yang hanya pernah kamu kenal lewat blog ini, disambut dengan senyum manis tulusmu.
blog memang ajaib ya, yu... ;)
melalui halaman virtual masing-masing, kita saling mengenal, saling menyapa, dan kemudian perkenalan itu kita bawa dan pelihara menjadi sebuah persahabatan yang memiliki wujud di dunia nyata.
saya tak akan pernah lupa, hari-hari setelah menerima sms singkat darimu. ketika akhirnya kita duduk bersisian, berbincang akrab ditemani crepe nutella dan secawan anggur merah sambil menonton keramaian Saint Michel. kehangatan yang terjalin dalam waktu singkat itu berlanjut terus seiring dengan bergulirnya waktu. tanpa mengenal jarak Versailles - Paris yang sebetulnya tidak terlalu dekat, tanpa mengenal perbedaan cara kita bercakap karena latar belakang budaya [kamu dengan istilah-istilah bali-mu, saya dengan bahasa banci salon], dan tanpa menghiraukan kenyataan bahwa... hey, kita baru kenal sebentar, tak pernah bertatap muka sebelumnya... tapi.. ah...
mungkin perbedaan itu memang sebenarnya tak pernah ada...
karena jauh di lubuk hati terdalam, kita merasakan hal yang sama. sama-sama menjadi wanita indonesia yang diboyong ke negeri seberang dan selalu rindu pada tanah air. sama-sama menjadi orang asing dimana sebagian besar waktu kita habiskan untuk menyesuaikan diri, juga sama-sama menjadi 'tawanan' yang memang ingin ditawan oleh suami-suami perancis kita yang biarpun sering ajaib tetap kita cintai setengah mati. :)
entah apa jadinya hidup saya di Paris jika tidak pernah bertemu kamu.
suami saya sangat memahami makna dari kalimat itu. kamu selalu ada disamping saya tanpa pamrih dan tanpa pernah diminta. bersamamu saya tak pernah lost in translation atau lost in style... *wink* ;) kamu menjadi orang pertama tempat saya menumpahkan cerita dalam bahasa ibu saya sendiri, menjadi tempat bertanya, tempat mengeluh, juga menjadi kawan berbagi kegembiraan dan air mata dengan cara yang hanya kita sendiri pahami. lebih dari itu... kamu menjadi sahabat terbaik yang pernah diberikan oleh Sang Pencipta di negeri asing ini.
ayu sayang...
seandainya boleh memilih, tentu saya tak ingin tinggalkan Paris yang cantik beserta isinya termasuk salah satu sahabat terbaik dalam hidup. tapi... seperti yang sering saya bilang dalam ribuan percakapan tak penting kita... c'est la vie ma cherie... detik tak pernah mengenal kata berhenti dan hidup harus terus dilanjutkan. tak ada sebersit pun keraguan untuk mengatakan... apa yang telah kita miliki bersama tak kan pernah pergi biarpun salah satu dari kita tak lagi berada di kota yang sama. Newcastle hanyalah sebatas sebuah nama yang tak akan melahirkan jarak diantara dua sahabat.
terimakasih... terimakasih... dan terimakasih sekali lagi untuk persahabatan yang indah. saya tak akan pernah melupakan segala rupa bantuan, semangat dan kasih tanpa pamrih dari hati tulusmu. maafkan saya jika pernah bertindak kejam [seperti memaksa kamu untuk belajar the art of saying "NON" sewaktu-waktu... :)] dan... meski saya tau pasti akan merindu duduk bersisian lagi denganmu, salam perpisahan tak akan terucap disini. karena kita tak pernah berpisah... kehadiranmu kan selalu ada di hati dan pikiran, di sudut bumi manapun saya kan berada.
take care, good luck for everything [career, keterampilan memasak, juga mengajarkan bahasa indonesia ke in laws ;) hehe] send my warmest regards to your beloved cyf. dan... saya nantikan kedatanganmu di Newcastle. disana mungkin tidak ada wine se-dahsyat di Paris, tapi saya berjanji akan mentraktir kamu 1 liter the best cider in town... kontan! gak pake ngutang!
with tons of bisous, hugs, love, pray dan... sampai jumpeeeeeee [<- 'e' malaysia! *wink* ;)]
~You've Got A Friend in Me by Randy Newman~
loucee said it on 12:26 AM




ARCHIVES
- February 2004
- March 2004
- April 2004
- May 2004
- June 2004
- July 2004
- August 2004
- September 2004
- October 2004
- November 2004
- December 2004
- January 2005
- February 2005
- March 2005
- April 2005
- May 2005
- June 2005
- July 2005
- August 2005
- September 2005
- October 2005
- November 2005
- December 2005
- January 2006
- February 2006
- March 2006
- April 2006
- May 2006
- June 2006
- July 2006
- August 2006
- September 2006
- October 2006
- November 2006
- December 2006
- January 2007
- February 2007
- March 2007
- April 2007
- May 2007
- August 2007


