human - blog

Monday, March 20, 2006

• "yuni jie on modern interior design"

walah... blognya agak terbengkalai ya... :(
mohon maaf kepada para penonton. saya memang agak sibuk di kampung halaman, sampai tak sempat duduk manis di depan komputer untuk menengok rumah sendiri.

lagi sibuk apa sih?

jawabannya, tak lain tak bukan adalah... BIKIN BUKU! Aha! ;)
tenang.. tenang... saya belum berniat untuk menjadi seorang penulis buku. nasib masih menggariskan saya untuk tetap menjadi seorang graphic designer. dan kali ini buku interior teman saya, yuni jie, yang menjadi objek eksperimennya.

8 bulan waktu yang dihabiskan untuk mengerjakan project ini. dari glasgow, paris, sampai newcastle, project mengasyikkan ini lah yang setia mengisi hari-hari nomaden saya. sampai akhirnya saya sengaja pulang ke jakarta untuk mendampingi sendiri proses cetaknya.

saya tidak akan bercerita banyak mengenai buku ini. karena saya ingin mengundang anda langsung untuk melihat dan menikmati buku interior setebal 152 halaman yang modern juga sarat warna ini di acara peluncuran perdananya.

datanglah ke kinokuniya bookstore di sogo plaza senayan, hari kamis tanggal 23 maret dari jam 2 siang - 4 sore. acaranya ada talk show bareng sang pengarang, Q&A, book signing, juga door prizes berhadiah MP3 player, jim thompson silk dan lampu meja cantik buatan yuni sendiri.

dateng ya! saya juga ada di sana lho. tidak sebagai pagar ayu, tapi... malah didaulat untuk jadi MC! kuahakhakhakhaakk... tuluuuungggggggg...... seumur-umur saya belum pernah jadi MC niiihhhh... helep..helepp.. deg-degaann. *ahiks* :(


loucee said it on 5:34 PM




Saturday, March 11, 2006

• cerewet membawa sengsara

orang-orang bilang saya cerewet. saya sendiri berkeyakinan bahwa saya tipe perempuan cerewet yang normal, belum akut. saya memang senang bercerita, tapi ada saat-saat dimana saya bisa menjadi perempuan tenang, tidak berbicara banyak meski alam pikiran saya tetap cerewet.

sejak menikah dan diboyong kangmas perancis ke negeri seberang, boleh dibilang kecerewetan saya berkurang banyak. nampaknya suami saya yang cenderung pendiam dan berpembawaan tenang berpengaruh banyak terhadap kadar kecerewetan istrinya. saya jadi lebih tau diri dengan mengurangi frekwensi bicara yang tidak penting karena pasangan hidup saya lebih sering menanggapi dengan senyum atau kalimat-kalimat singkat dan padat. hingga kadang saya jadi sering berasa seperti penyiar radio saat keterusan bercerita tanpa titik dan koma di depan satu-satunya penonton setia saya itu.

namun, kembali ke jakarta tanpa suami ternyata mampu menghidupkan gen cerewet saya yang sempat sembunyi. apa boleh buat, kembali ke tanah air, berarti juga bertemu dengan sanak saudara dan teman-teman yang senantiasa bertanya tentang kehidupan saya selama satu tahun diboyong suami. alhasil saya pun kembali menjadi perempuan cerewet yang tak ada hentinya bercerita tentang petualangan saya menjadi orang asing di negeri asing.

3 minggu sudah saya berada di kampung halaman, dan hampir setiap hari saya sibuk menjadi pendongeng saat bertemu teman-teman yang datang dari berbagai lingkungan permainan. kadang saya sendiri sampai merasa bosan karena harus menceritakan hal yang itu-itu lagi. but, it's okay. saya jauh lebih bahagia karena akhirnya cerita petualangan itu bisa dinikmati dan ditertawakan bersama dengan teman-teman tersayang.

yang lucu, tadinya saya tak terlalu 'ngeh' bahwa frekwensi ngoceh saya bisa meningkat begitu pesat. adalah pita suara saya yang menjadi pertanda betapa saya telah menjelma kembali menjadi wanita cerewet di kampung halaman. di minggu ke-2, tenggorakan saya sudah mulai sakit dan stok suara saya mulai menipis. untuk beberapa hari saya merasa bahwa suara saya sendiri sudah sedikit berubah saat berbicara menjadi serak-serak becek.

puncak dari derita sang pita suara terjadi 3 hari yang lalu. seandainya suara normal dapat digambarkan seperti pita kado setebal 2 cm, saat itu kondisi suara saya mungkin sudah setipis benang jahit. tapi saya tetap gas pol ketemu sahabat-sahabat dari jaman SMA yang parahnya mengajak saya untuk melakukan kegiatan 'pembunuhan pita suara' dengan melakukan... KARAOKE!!

yah... strahlah... bubar sudah segala pertahanan senin-kamis dari sang pita suara. 2 jam penuh, kami ber-empat melakukan konser tunggal di ruangan berpendingin itu. semua lagu dari jaman keemasan rok abu-abu sampai yang paling mutakhir kami babat tanpa malu-malu. dangdut, pop, rap, jazz, sampai heavy metal kami teriakkan [bukan dinyanyikan] dengan kekuatan penuh yang didukung gaya dan 'aksi panggung' yang spektakuler. for two hours we felt like SUPA'STAH!! dan di penghujung malam, sudah bisa ditebak.... suara saya benar-benar hilang.

bukan saya namanya kalau harus menyerah kalah dengan pita suara yang koit. keesokan harinya saya tetap lanjut dengan teman-teman saya sesama 'supa'stah' tadi untuk merambah dunia gemerlap malam. teori saya, suara hilang tidak lantas mematikan aksi joget dong, ah. lagipula sejak sampai disini, saya sama sekali belum absen ke lantai deskoh.

teori yang salah!

tolong dicatet... yang namanya tempat dugem itu selalu berisik! musiknya pasti kenceng kan ya? tetep kedengeran di jantung biarpun tutup kuping. dan meski namanya 'tempat diskoh' teteup... disana gak cuma kegiatan disko aja yang dilakukan, tapi pasti ketemu orang-orang, yang berarti ngobrol. at least kalau gak ketemu siapapun, tetep harus ngomong ke bartender buat pesen minum, etc, etc...

so yeah, adalah sebuah langkah yang tidak cerdas untuk datang ke tempat dugem ketika anda tidak punya suara sama sekali. pesen minum ke bartender, ybs cuma bisa tereak balik.. "APAAAAAAAAAAAA???" setengah mati saya mengumpulkan tenaga untuk teriak "BIIIIIIIIIRRRRRRRRRRR!", bartendernya malah nanya... "APAAA?? JACK DANIELS??" idih... jauh!

itu baru urusan pesen minum. yang lebih menyiksa lagi adalah kalau tiba-tiba ketemu temen atau malah dikenalin ke temennya temen. nah.. itu berasa deh... ditanya apa khabar? atau namanya siapa? jawabannya cuma komat-kamit. jika si lawan bicara mampu bertahan sampai 3 pertanyaan saja, saya beri gelar 'orang sabar'. karena orang normal pasti akan segera minggat begitu tau saya cuma bisa buka-tutup mulut tanpa mengeluarkan suara kaya ikan mas koki.

sampai hari ini suara saya masih hilang. padahal besok saya akan pergi mengunjungi mbak#2 di pulau seberang lewat jalur batam bareng mbak#1. tadinya, mbak#1 sudah merencanakan untuk mengisi perjalanan panjang kami dengan..... ngobrol dan bercerita!

saya sih masih tetap senang bercerita. tapi dengan kondisi suara bagai rockstar tak kesampaian ini mungkin ada baiknya saya mengisi waktu dengan mengajarkan mbak#1 berkomunikasi lewat telepati saja.

maap ya mbak#1.... ;)


loucee said it on 8:18 PM




Thursday, March 02, 2006

• the others

saya hampir lupa bahwa rumah orang tua saya yang notabene berada di daerah tropikal ini tidak hanya dihuni oleh bapak, ibu dan para pengurus rumah tangga saja, tapi juga oleh makhluk lainnya. tenang... ini bukan cerita hantu... tapi tentang makhluk-makhluk berkaki dua atau lebih yang ikut numpang tinggal di rumah, yang dulu tak pernah saya pedulikan keberadaannya, tapi ternyata jadi 'aneh' sendiri saat saya berjumpa lagi dengan mereka sekarang.

malam pertama menjejakkan kaki di rumah, saya disambut dengan paduan suara para penghuni rumah dari arah kebun yang riuh rendah. perkenalkeun... ini keluarga kodok. sudah lama sekali saya tak mendengar mereka bernyanyi. suaranya masih sangat nyaring juga ternyata. sampai-sampai, saat harus menelephone dari ruang TV di sebelah kebun, teman saya di seberang sana bertanya, "lo dimana sih, louc? sawah?"

esok paginya, saat sedang menuju dapur dengan mata setengah terbuka, saya juga dikejutkan oleh makhluk berbulu dan bereekor panjang melenggang santai di atas kompor. nah, kalau yang ini... tikus bow! gede banget... item pulak! langkah saya langsung terhenti begitu melihatnya. tapi oknum yang bersangkutan ternyata malah santai saja. asyik melenggang dari kompor, ke bak cuci, lompat ke tong sampah tanpa mempedulikan kehadiran saya yang agak takjub melihat betapa cueknya makhluk berekor ini bermain-main di dapur rumah. seketika saya merasa kaya tamu di rumah sendiri berhubung tikusnya cuek, euy... kagak takut ada saya disitu.

saat sedang mandi, lagi-lagi saya tak sendiri. kehadiran beberapa makhluk berekor berwarna coklat muda yang nangkring dengan tenang di dinding ikut menemani acara mandi pagi saya hari itu. nama kerennya cicak. tahun lalu suami saya juga sampai takjub melihat makhluk ini mondar-mandir naik turun di dinding. katanya cicaknya lain di perancis. warnanya lebih gelap, sementara yang dia liat di rumah orang tua saya berwarna lebih muda seperti cicak albino.

pagi itu, saya sempet agak jengah sedikit sih... berasa lagi mandi ada yang ngeliatin.. *ihik* tapi, selama cicak-cicak itu gak tiba-tiba nyaut... "mbak-mbak... perutnya gendut tuh! perlu sit-up sikit.." saya tetap melanjutkan acara gebyar-gebyur sambil sesekali memperhatikan gerak-gerik mereka dengan cemas. gak kebayang kalo tau-tau ada yang terlalu lincah trus lompat ke saya, trus sayanya pingsan, trus ditemukan dalam keadaan terkapar di lantai kamar mandi tanpa busana... duh! gak gaya banget deh.

nah yang paling menyebalkan dari seluruh piaraan rumah selain ketiga makhluk yang diatas adalah... apalagi kalo bukan NYAMUK! dari sebelum cabut for good ke luar negeri juga saya selalu perang sama mereka di rumah. anda semua pasti tau betapa kejamnya para nyamuk nusantara ini saat beraksi. kalo gigit sakit, menyebabkan bentol-bentol merah, dan pada kasus saya sering meninggalkan bekas hitam di kulit yang lama hilangnya. *grrblll!!*

biasanya untuk mengurangi serbuan nyamuk di rumah, pembantu ibu saya rajin menyemprot obat pembasmi nyamuk di sore hari. cuma saya perhatikan, nyamuk-nyamuk itu cuma teler selama beberapa jam saja. malam hari menjelang tidur mereka bisa bangkit lagi bagai highlander yang gak bisa mati.

dua hari yang lalu saya sampai terbangun dari tidur lelap gara-gara serbuan para nyamuk di tengah malam. susah payah saya berusaha mematahkan serangan mereka. dengan mata 5 watt, saya terduduk lesu di tempat tidur sambil tepuk-tepuk tangan sendiri kaya penonton lenong. sampai akhirnya rasa kantuk tak tertahankan lagi, saya menyerah kalah. biarpun 'pertunjukan' masih berlangsung, saya lebih memilih untuk menarik selimut sampai ujung kepala, sambil membuka sedikit celah di bagian hidung supaya masih bisa bernafas.

sialnya, nyamuk-nyamuk kejam yang beraninya main keroyokan itu tetap menemukan jalannya menuju mangsa empuk mereka... wajah saya! pagi hari saya terbangun dengan rasa gatal nan menyiksa di muka. ketika melihat bayangan di cermin terlihatlah 2 ornamen baru berwarna pink di kelopak mata kiri saya yang cuma bisa dibuka setengah saking bengkaknya dan bibir atas saya yang tebalnya sudah menjadi dua kali lipat dari ukuran normal. untung hari itu saya tak ada janji ketemu teman. kalau gak, saat bertemu mungkin saya harus kenalan lagi... "anjelina jolih! bintang tamu pelem fight club!" ;) *ihik*


loucee said it on 6:07 PM