Tuesday, May 23, 2006
• from print to web designer wannabe
beberapa deadline jatuh di saat bersamaan. tanpa banyak pilihan, hari-hari belakangan ini terpaksa saya habiskan dengan memelototi layar powerbook yang sudah sekian ratus jam tak saya matikan. sama nasibnya dengan otak saya yang sudah sempat hampir meletus dan jika bisa akan mengeluarkan asap dari kedua telinga.
seandainya deadline-deadline gila itu terdiri dari project yang melibatkan identity atau print design saja, pastinya saya tak akan sepusing sekarang. for about 10 years, i was trained to do those things. dan dalam industri ini, deadline ketat yang berkejar-kejaran tak hanya dalam hitungan hari tapi juga jam bukanlah sebuah barang baru. i'm sure my fellow graphic designers know how those deadlines treat us with no mercy. but honestly, things are getting out of my hands when i have to work on something that comes from the world next door. sebuah dunia yang baru saya jajal sekitar 1,5 tahun lalu. tanpa didukung pengetahuan yang cukup, apalagi pengalaman... which is called... "the web design" world.
okeh, sebelum anda [terutama yang gak familiar dengan dunia design] keburu bingung tentang cuap-cuap berikut, let me explain a bit about the differences between identity/print design and web design. buat anda yang familiar, you may skip this paragraph as this might put you asleep:
identity & print design: yang dikerjain diantaranya adalah logo, business card, letterhead, brochure, flyer, poster, etc. intinya... design-design yang hasil akhirnya dieksekusi dalam bentuk CETAK. makanya disebut print. pelakunya disebut graphic designer... and that is me.
sementara web design: well.. basically you are doing things which its final product will be viewed in your internet browser. tidak dicetak. tapi designnya diterjemahkan dalam kode-kode bahasa dewa supaya bisa dilihat ketika anda membuka internet dimanapun sedang berada. pelakunya disebut web designer... and that is what i'm trying to be now.
sekarang, saya mau membuka aib masa lalu... *sigh* :(
jaman kuliah, beberapa teman yang punya pikiran maju sempat mengajak saya untuk bermain-main dengan web design yang kala itu baru mulai nge-trend di kampus. and you know what i said... "ogah ah! ngapain belajar web? i'm stick to PRINT!! paper never dieeeeesssssss!!!"
well.. apparently, media kertas memang belum mati sampai sekarang. tapi seiring dengan perjalanan waktu dan kemajuan teknologi, media web akhirnya juga menjadi sama pentingnya dengan kertas sebagai alat promosi dan komunikasi. global companies pasti punya website. small companies juga banyak, bahkan individual juga tak sedikit. website is no longer considered a second-class media.
jujur nih, seandainya saya tak harus menjalani kehidupan nomaden seperti yang terjadi belakangan ini, saya mungkin tak akan pernah berniat untuk mengembangkan diri dengan belajar web design. but i feel that i have to eat my own words that was said 10 years ago. karena ternyata mendesign website menjadi kegiatan yang paling doable sekarang. mau di bawah patung liberty atau menara eiffel, selama sambungan internet masih nyambung, i still can work. mendesign, menerjemahkannya ke bahasa dewa, meng-upload ke server, sampai hasil akhirnya jadi, saya tak perlu memindahkan pantat dari kursi. lain dengan print design dimana sering si designer harus mengikuti proses supervisi proof print atau nyetak langsung di percetakan.
now i may know about design. but still.. it's a challenge to switch my print designer set of mind to web designer. tentu saja sampai saat ini saya masih harus dibantu seorang teman yang berfungsi sebagai programmer, secara otak saya masih belum mampu mencerna bahasa kode para dewa...*sigh*
dengan kapasitas yang terbatas itu, entah berapa kali saya diprotes oleh teman programmer saya... "design loe susah!! ribettt!!"
yang dengan tidak rela sering saya bales.. "hah?? ribeett?? simple gitu kookk!! gue kan gak suka design2 yang ribeeettt!"
hohoho... emang gampang?
tampilan boleh simple, tapi scriptnya? itu lain cerita. sekian pakem dalam mendesign yang selama ini sudah nempel di kepala, mau tak mau harus saya tinggalkan semua. font harus standard web, jumlah image gak boleh banyak-banyak supaya cepet nge-loadnya, belum lagi kalo sudah mulai membahas tentang optimasi SEO. i even just knew that word not even a month ago. menyedihkan... dan pengetahuan saya akan bahasa para dewa yang seyogyanya menjadi faktor keberhasilan tampilan website yang tak hanya indah tapi juga BENAR... sungguh amat ketinggalan jaman. and i truly.. truly.. raise my hat to acknowledge those programmers. kalian harus bagi-bagi rahasia... setiap hari sarapan apa supaya bisa pinter begitu? :)
back to the topic of my website project it self, it has became one of the most difficult project i've ever done in my short web designer wannabe career. karena tak hanya website ini harus punya layanan online shopping [which i've never done in my life], tapi juga karena... it's using strictly FRENCH as its language.
pat pat gulipat, gue emang lagi nekat!!
secara kemampuan bahasa perancis saya juga tiarap, tentu saja tidak membantu banyak. dalam beberapa hari ini entah sudah berapa kali saya mengganggu suami yang lagi santai nonton tv dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting buat dia, tapi jadi urusan hidup dan mati saya seperti, "babeeeee... bahasa perancisnya 'shopping cart' apa? kalo 'log in'? 'my account'? 'your order has been received'? 'thank you for shopping with us'?" heleepp... heleeppp....!! i'm losing my mind here...
but still... dibalik segala kerut yang bertambah karena kebanyakan mikir, atau banjir kafein yang mengancam kesehatan, sebagai orang jawa yang gemar bilang "masih untuunggg...." saya tetep harus bilang....
masih untuuungg saya dapet project, karena berarti koleksi sepatu bisa nambah :)
masih untuuungg saya punya programmer jenius dan terutama sabaaar menghadapi designernya yang gaptek akut.
masih untuuuungg saya punya suami yang tak hanya berfungsi sebagai kamus perancis berjalan, tapi juga selalu menyediakan waktu untuk membelai kepala saya sambil bilang, "don't work too much, sayang..."
well.. bagai balita yang sedang jatuh-bangun belajar berjalan, it's been a hell of a learning process these days. yet... i'm still enjoying it. i love what i do and every project is a new lesson that will make you grow. beberapa tahun dari sekarang, selama tidak berhenti belajar, mudah-mudahan tak hanya berjalan yang bisa saya lakukan, tapi juga berlari dan kali aja memenangkan pertandingan marathon!! *jadi atlet dooonggg???* hikhikhikhikhikk... :D
loucee said it on 4:30 AM
Sunday, May 14, 2006
• dilema bloggerama
seberapa lebar anda rela membuka pintu bagi orang lain untuk mengetahui kehidupan pribadi anda di blog? saya tau, ini sebuah topik klasik para blogger, yang sampai sebelum pulang ke jakarta, tak pernah membuat saya berniat untuk menulisnya disini.
sekitar 2 tahun yang lalu, saya memutuskan untuk menjadi seorang blogger. alasan utamanya sangat sederhana. seperti yang sudah tertulis di halaman about, saya membuat loucee.com supaya bisa terus berkabar dengan teman-teman dan keluarga di kampung halaman. selain akhirnya menjadi tempat untuk menyalurkan kebawelan saya bercerita tentang kehidupan baru menjadi orang asing bersama suami asing, di negeri asing.
dalam perjalanannya, beberapa kali suami saya bilang.. "you write things that are too personal in your blog."
namun berkali-kali saya menekankan ke dia, "don't worry. i know which are too personal and which aren't. besides... nobody knows me or you in this country. so, i don't think writing personal stories in blog could effect us in any ways."
benar memang. selama tinggal di new york, glasgow, paris dan kemudian newcastle, hanya segelintir manusia berbahasa indonesia yang mengenal saya, laurent juga kisah-kisah kehidupan kami melalui blog. tapi... cerita kemudian jadi berbeda ketika saya berlibur di jakarta. di kota tempat hampir seluruh teman dan keluarga saya tinggal. disanalah saya baru menyadari efek menjadi seorang blogger yang rutin bercerita tentang kehidupan pribadinya di dunia maya.
teman, atau keluarga yang sudah lama tak saya temui atau dengar kabarnya bisa dengan sumringah bertanya tak sekedar.. "apa khabar?", tapi juga.. "gimana laurent? waktu itu jatuh dari sepeda, ya? udah sembuh tangannya?" atau.. "laurent masih sering kamu ajarin bahasa indonesia pake lagu?" atau... "kamu masa gak suka daging kelinci, sih?" atau.. "gimana rasanya jadi stripper waktu apply kartu bujur?" .. atau.. "masih sering ketemu jon dari california?" atau.. "aduhh.. ulang-taun lo kemaren romantis banget siih.." and so on.. and so forth...
logically, seharusnya saya tak perlu merasa surprise dengan semua pertanyaan tadi, karena memang saya pernah menulisnya disini. tapi tanpa bisa saya hindari... i did feel awkward and surprised every time being asked about stories i wrote in here. rasanya janggal ketika mengetahui bahwa banyak orang yang saya temui di jakarta mengikuti jalan hidup saya selama di negeri asing... while.. i know NOTHING about what's going on in their lives kecuali mereka punya blog.
jika mereka yang mengikuti peristiwa dalam hidup saya hanyalah teman dan keluarga mungkin saya tak perlu merasa khawatir berlebihan. toh, dalam kehidupan nyata mereka mengenal saya. and i posted those stories for them to read anyway. namun, pada kenyataannya saya juga tak bisa santai begitu saja. apalagi ketika beberapa kali bertemu orang-orang asing yang baru saya kenal, yang ternyata mengetahui blog ini, dan tentunya sudah tau banyak sekali tentang saya tanpa saya harus berkenalan terlebih dahulu dan bercerita dengan ybs.
yes, i met those people. and don't get me wrong... most of them were so nice that they even could say "aduuhh loucee... seneng banget bisa ketemu. serasa ketemu temen lama, deh!" sambil memeluk saya erat meski baru pertama kali berjumpa. it is a nice thing indeed, dan mendapat teman baru buat saya selalu menjadi sebuah hal yang sangat menyenangkan.
namun kejadian-kejadian kecil selama di jakarta tsb mau tak mau mengingatkan saya akan komentar laurent dulu. it has popped a question that is supposed to be asked long before, "is it wise to expose your personal life in blog?"
sejujurnya, jika sebelum ini saya menganggap apa yang tertulis disini masih umum sifatnya, kejadian di jakarta memaksa saya untuk berpikir ulang atas jawaban pertanyaan itu. after all... this blog is about my personal life. ditaruh di web, yang bisa di-access oleh siapapun yang punya internet. tak hanya teman dan keluarga semata. beruntung jika ternyata mereka yang datang ke halaman ini adalah orang-orang asing nan baik hati yang di kemudian hari menjadi teman. namun tak jarang blog kedatangan orang-orang dengan niat tidak penting, jauh dari menyenangkan dan mungkin malah membuat hidup jadi lebih rumit. saya tau ketika pintu ruang pribadi itu saya buka lebar-lebar di tempat umum, saya harus siap menanggung resikonya. sebuah konsekwensi yang mutlak disadari oleh siapapun ketika dirinya memutuskan untuk menjadi seorang blogger dengan identitas jelas, bukan anonymus.
sebagai seorang blogger, saya memang sedang memasuki sebuah masa yang membingungkan. saya masih senang bercerita. kisah-kisah pribadi, bukan imajinasi.. and it's personal. but at the same time i've been trying not to write things that are too personal, supaya tetap ada ruang pribadi yang hanya bisa dimiliki saya sendiri. meskipun pada akhirnya saya sampai pada sebuah dilema... ketika perasaan terusik atas reaksi orang tentang kehidupan pribadi itu muncul, saya mulai mempertanyakan garis batas antara 'personal' dan 'terlalu personal' yang telah saya buat sendiri.
well... postingan ini memang cuma curhat. yang mungkin akan menjawab mereka yang bertanya mengapa akhir-akhir ini saya jadi terkesan malas untuk meng-update. meskipun demikian, gundah dan dilema tak lantas semudah itu membuat saya berhenti nge-blog. saya masih semangat untuk berbagi kisah disini. bagaimana pun juga, hidup saya telah banyak berubah dan terbantu karena media blog. namun kini sudah saatnya saya lebih berhati-hati dan berpikir berkali-kali lagi ketika menulis and finally hit the 'publish' button. in the end, i consider this post just as a reminder... for me and maybe for you too.
happy blogging, people... and please blog wisely!
loucee said it on 3:38 PM
Wednesday, May 10, 2006
• saya, bapak, dan nasi
ketidakcocokan antara orang tua dan anak itu adalah hal biasa. seperti kasus antara saya dan bapak, kami punya sebuah ketidakcocokan mutlak yang sampai kapanpun tak akan pernah ketemu jalan tengahnya, yaitu dalam urusan... nasi! ya.. nasi! makanan pokok bangsa indonesiah.
bapak menyukai nasi yang lembek. sebaliknya, saya justru menyukai nasi yang keras. saya tak pernah mengerti kenapa ada orang yang suka makan nasi lembek. buat saya mending makan bubur dibanding nasi lembek. nanggung banget, sih!sementara bapak sering meledek saya, "makan nasi kok bisa dihitung jumlah butirannya!"
karena sang kepala keluarga senang makan nasi lembek, nasi di rumah saya di jakarta pun selalu dibuat sesuai dengan selera bapak. lembek. kalau saya sedang pulang, biasanya saya ngambil jatah nasi para pembantu yang dimasak terpisah dengan jenis beras yang berbeda. pernah ibu berinisitatif untuk membuat nasi keras dari beras 'orang dalem'. tapi saya cegah karena tidak praktis dan malah nambah kerjaan saja. lagian buat saya, nasi yang dimakan pembantu rumah saya jauh lebih nikmehh...
saya yakin, urusan nasi ini adalah salah satu hal yang paling bapak khawatirkan ketika akhirnya sampai di apartemen kami di newcastle. hari pertama beliau bertanya, "kamu punya nasi kan di rumah?"
saya jawab sambil agak ragu-ragu... "punya sihh... tapi nasi saya... nasi basmati. keras."
"masih suka nasi keras? kasian suamimu dong dikasih nasi keras."
"ah, laurent mah makan apa aja, pak. dia kan bule jawa. nrimo... hihi.."
berhubung gak tega, hari itu begitu tiba jam makan malam, saya dan laurent langsung pergi ke chinatown. beli lauk-pauk lengkap dengan nasi matang meskipun stok beras basmati di rumah masih cukup banyak.
"gimana pak nasinya?" tanya saya ketika kami sedang menikmati makan malam bersama.
"yaa... lumayan..." katanya sambil mengunyah.
"keras gak, pak? ini nasi cina lho. aku gak masak basmati."
"besok kita beli beras aja di chinatown. nanti bapak masak sendiri."
esok siangnya bapak beneran membeli beras di chinatown. beras thailand. yang begitu sampai rumah langsung dimasaknya sendiri di rice cooker. saya agak terpana juga melihat pemandangan bapak memasak nasi. kalo di jakarta mana mungkiiinn?? tapi, demi nasi yang sesuai selera beliau lakukan juga. lagian sepertinya dia agak kurang percaya kalau saya yang masak, karena kemungkinan besar memang nasinya akan jadi keras juga.
"gimana pak nasinya?" tanya saya siang itu di meja makan.
"kok masih keras, ya?" katanya sedikit kecewa.
"lahh.. tapi kan tadi bapak masak sendiri.."
"iya memang... berasnya beda ya disini."
"ini beras thailand lho, pak.." kata saya meyakinkan.
"iya.. tapi tetep keras, beda sama beras yang biasa kita beli di rumah."
"yah.. gak papa deh, pak. masih untung bisa makan nasi. minggu depan kalo kita ke rumah orang tua laurent di south of france kita gak bakal makan nasi selama 4 hari lho...!"
"kok begitu?"
"karena mereka memang gak makan nasi. pokoknya strictly french food only lho, pak. 4 hari penuh! bapak-ibunya bakal masak. kita gak akan dibawa ke chinese restaurant. bapak siap ya??"
bapak saya masih mengunyah dalam diam. dalam hati saya agak was-was juga, sambil berpikir apa saya perlu bawa bekal beras ya.. supaya bapak saya tetep bisa makan nasi selama perjalanan. namun beberapa detik kemudian akhirnya bapak angkat suara... "kalo begitu.. ya sudah lah... pasrah saja. in that situation.. we just have to surrender!" ;)
*angkat topi buat bapak saya yang selama 4 hari penuh tetap tersenyum di meja makan meskipun lidah jawanya 'disiksa' makanan perancis dan gak ketemu nasi sama sekali selama di south of france. YOU GOOO, PAKK!!! next time jangan kapok, yaaa....* :D hihihihi....
loucee said it on 8:12 PM




ARCHIVES
- February 2004
- March 2004
- April 2004
- May 2004
- June 2004
- July 2004
- August 2004
- September 2004
- October 2004
- November 2004
- December 2004
- January 2005
- February 2005
- March 2005
- April 2005
- May 2005
- June 2005
- July 2005
- August 2005
- September 2005
- October 2005
- November 2005
- December 2005
- January 2006
- February 2006
- March 2006
- April 2006
- May 2006
- June 2006
- July 2006
- August 2006
- September 2006
- October 2006
- November 2006
- December 2006
- January 2007
- February 2007
- March 2007
- April 2007
- May 2007
- August 2007


