human - blog

Friday, September 29, 2006

• antara ITB, Pratt dan Northumbria



sudah 2 minggu ini saya resmi menyandang status pelajar. rasanya hehe.. lucu.. :P bergulat lagi dengan class schedule, assignments, homework, buku-buku, research, essays, etc. semua itu mungkin bukan barang baru lagi bagi seorang 'pelajar veteran' macam saya yang udah lumayan kenyang menimba ilmu di berbagai institusi, tapi teteuupp... sekolah di negara yang berbeda, dengan subject yang agak berbeda memberikan pengalaman baru yang juga tak kalah beda dari apa yang sudah dialami sebelumnya.

pengalaman apa aja tuuh??
mari kita bandingkan ketiga sekolah tsb:

1. Institut Teknologi Bandung
Lokasi: Bandung, Indonesia
Program Studi: Studio Desain Komunikasi Visual, FSRD
Gelar: Bachelor / S1
Durasi: 1995 - 1999

2. Pratt Institute
Lokasi: New York City, USA
Program Studi: Visual Communication Design
Gelar: Master / S2
Durasi: 2001-2004

3. Northumbria University
Lokasi: Newcastle, United Kingdom
Program Studi: Design Management
Gelar: Master / S2
Durasi: 2006 - 2007


• syarat masuk
ITB: ikut Ujian Masuk Fakultas Seni Rupa & Design [UMFSRD] yang meliputi tes bahasa indonesia, bahasa inggris, psikologi dan tes gambar. gak yakin apakah NEM atau nilai EBTANAS turut diperhitungkan.
PRATT: minimal TOEFL score = 500, nyerahin portfolio, nyerahin surat rekomendasi dari 3 dosen di S1.
NU: in my case cuma ngasih formulir dan portfolio. udah gak ditanya lagi score test bahasa inggris dan surat rekomendasi.


• upacara penyambutan murid baru
ITB: push-up, sit-up, dibentak-bentak, dan dijitak-jitak sama senior selama 6 bulan.
PRATT: ngumpul di lobby, dengerin kata sambutan selama 15 menit dari Head of Design Department.. trus.... yuk, deh.. belajar!
NU: ngumpul di City Hall, dengerin kata sambutan dari pejabat City Council, Dean of Design Faculty dan serentetan pejabat lainnya seharian. ada welcome week di Student Union yang diisi dengan berbagai acara hiburan lengkap dengan layar digital, musik disko dan tari-tarian ala cheerleaders di halaman sekolah, juga promosi berbagai macam produk khusus untuk student dari mobile phone providers, credit cards, travel agents juga clubs or pubs daaann.. dapet berbagai macem goodies dari mie instant sampe radio!


• komposisi mahasiswa
ITB: 1 angkatan = 128 mahasiswa dari seluruh penjuru indonesia.
PRATT: dari seluruh penjuru dunia, entah ada berapa jumlahnya karena gak pernah ketemu semuanya.
NU: 38 mahasiswa dengan komposisi; 2 dari Inggris, 3 dari EU countries, 2 dari Thailand, 2 dari Indonesia, 1 dari India, sisanya dari China dan Taiwan. lulus dari program ini dijamin bisa ngomong lebih dari sekedar ni hao ma! :P


• jam sekolah
ITB: dari senin-sabtu, paling pagi mulai jam 7 [dan lebih sering bolos], paling sore selesai jam 3 [dan lebih sering cabut duluan].
PRATT: dari senin-kamis, paling pagi mulai jam 3 siang, paling malem selesai jam 10. bolos hampir gak pernah karena berasa rugiiiiii.. kalo gak dateng dan dengerin kuliah apalagi udah bayar mahal-mahal. cih!
NU: dari senin-jumat, tiap hari mulai jam 9.30 selesai jam 5 sore. sampai saat ini belum pernah bolos meskipun bangun paginya penuh perjuangan [kebiasaan begadang, bow!]


• mata kuliah
ITB: selain mata kuliah studio dan beberapa mata kuliah pilihan ada mata kuliah wajib seperti bahasa indonesia, bahasa inggris, kewiraan dan olah raga!
PRATT: seluruh mata kuliah berhubungan dengan graphic design, teori maupun praktek. untuk mata kuliah studio boleh milih sendiri mau sama dosen yang mana. dari yang konservatif dan gualaknya minta ampyuunn.. sampe yang kaya artis MTV dan cuek beybeh.
NU: dosennya cuma ada 4 biji, ngajarnya ganti-gantian. mata kuliah udah dipaketin, gak bisa milih alias terima jadi.


• metode belajar
ITB: conceptual thinking nomer 1, sisanya urusan belakangan.
PRATT: final execution dan kick-ass portfolio nomer 1, conceptual thinking urusan belakangan.
NU: research and process nomer 1, mau dibawa kemana, berkembang sejauh apa... terserah mahasiswa. gak ngaruh kalo hasil akhir nendang tapi researchnya ternyata cetek.


• jadwal begadang
ITB: jarang. kalaupun begadang lebih banyak mainnya *hihi*
PRATT: hampir tiap malem beneran ngerjain tugas, mendekati akhir semester bisa cuma tidur 2 jam dalam waktu 3 hari nyiapin pameran tugas akhir.
NU: belum ketauan, tapi kayanya bakalan banyak... *sigh*


• results
ITB: lulus cum laude *ceilee*, ngirim cv ke 3 tempat, dipanggil interview dan diterima ditiga-tiganya. jeda antara lulus dan mulai kerja = 1 bulan.
PRATT: lulus with honors *ceileee lagi*, ngirim cv ke 50 lebih tempat, dipanggil interview cuma di 4 tempat, diterima di 2 tempat. jeda antara lulus dan mulai kerja = 6 bulan *tough life, man!*
NU: belum ketauan... pengennya sih bisa lebih pinter gak cuma dalam urusan design aja, tapi ahli dalam businessnya juga. amiiiieeeeeeeennnnnnn!!!! :)


loucee said it on 4:46 AM




Saturday, September 16, 2006

• the starbeck story

semua orang yang kenal saya di dunia nyata atau maya pasti tau betul bahwa saya paling gak napsuh sama makanan inggris. apapun bentuknya dari beans, pies, sampe fish n' chips... kagak ngaruuuhhh!! saya sudah terlanjur punya persepsi bahwa british food sucks! mending gue makan indomie.

tapiiiii... seperti yang biasanya hampir selalu always terjadi dalam hidup saya yang penuh kejadian gak penting ini, seminggu yang lalu lagi-lagi saya ketula' untuk kesekian kalinya. kali ini apalagi kalo bukan dalam urusan makanan.

ceritanya saya punya temen, namanya Ade. tinggal di daerah Sandyford yang lumejen jauh [untuk ukuran Newcastle] dari tempat tinggal saya di city center. katanya si Ade ini tetanggaan sama kedai makan enak bernama Starbeck. pas pertama kali ke rumahnya bareng temen-temen lain, Ade dihujani pertanyaan bertubi-tubi tentang kapan si Starbeck ini buka oleh teman-teman yang kayanya semangat bener pengen makan disitu. saya yang tadinya mikir Starbeck adalah kloningnya Starbucks langsung nanya dengan semangat juga dong... "apaan sih Starbeck?"
dan mereka semua menjawab dengan meriah... "FIIISSHHH N' CHIIIIPSSS!!!"

*ih.. males...*

okeh, hari itu adalah hari dimana saya mendengar untuk pertama kalinya bahwa fish n' chips si Starbeck itu uendang surendangg bambang. paling gak semua temen saya bilang begitu. tapi.. as always, saya bukan orang yang begitu saja menyerah kepada trend atau pendapat khalayak ramai. mo kate enak kek, tetep aja judulnya fish n' chips! so yeah, whatever... i'll stick to my indomie.

2 minggu berlalu sejak nama Starbeck disebut-sebut. weekend kemarin setelah sesorean bermain-main di pantai, saya, Ade, dan seorang teman bernama Husni sedang jalan kaki pulang ketika di sebuah pengkolan menuju rumah Ade tiba-tiba dia berteriak dengan semangat, "eh... eh.. Starbeck bukaaaaa!!! gue beli dulu yaaaaaa!!"

yeah.. yeah... saya dan Husni pun akhirnya berhenti menunggu di luar kedai. Ade cuma beli 1 porsi fish n' chips karena saya jelas tidak mau dan Husni sedang bokek.

sampe rumah Ade, kami semua duduk di ruang TV. fish n' chips yang dikemas mirip bantal berlapis koran itu dibuka di atas coffee table tanpa beralaskan piring. Ade menuang saos tomat di atas kertas dan mulai mengambil potongan ikan dengan garpu.. "cobain, louc! enak!" katanya.

saya cuma nyengir... masih belum tertarik.

tak lama Husni mulai mencomot potongan ikan di atas coffee table, dimakan juga dengan nikmat... "cobaiiinnnnn!! enak deeeeh.... louc..."

saya masih lempeng juga. tapi dalam hati mulai agak sedikit goyah menyaksikan pemandangan dua orang manusia yang sedang asyik menikmati fish n' chips dengan barbar. mana perut saya juga sudah mulai lapar pula. apalagi setelah main-main di pantai sesorean. ughh.. mana tahaaannn..... "sinih! gue cobain, deh. kaya apa sih enaknya??" kata saya akhirnya.

Ade menggeser kertas fish n' chips lebih dekat. saya lalu mengambil alih garpunya, memotong secuil kecil bagian ikan daannn... 'HAP!!' ikan goreng masuk mulut. saya terdiam sesaat, mengunyah pelan... sambil membiarkan lidah saya menikmati sensasi rasa fish n' chips Starbeck yang ternyata..... alamakjaannn.... WUINI WUEEENAK TENAAAAAAAAANNNNNN!!!!

******
malam itu dengan kurang ajar saya menghabiskan setengah porsi fish n' chips Ade. jelas saya masih lapar dan yang terutama adalah... masih penasaran! seperti yang sudah-sudah terjadi, kalo saya penasaran mau tak mau akhirnya jadi selalu kepikiran. maka sudah layak dan sepantasnyalah jika hanya ada 1 hal yang langsung terpikir ketika saya bangun dari tidur keesokan paginya... Starbeck!

jika biasanya saya paling malas sarapan, pagi itu saya merasa sudah saatnya memulai hidup dengan pola makan yang benar dengan sarapan fish n' chips *hihi* tanpa menunda-nunda, saya langsung telephone Ade. nanya Starbeck buka jam berapa. dia bilang dari jam sebelas sampe setengah 2 siang saja. sore baru buka lagi dari jam enam sampe setengah 9. saya melirik jam.. sudah jam 11 [siang bener bangunnya, bow! heuehueh..]. saya minta tolong Ade untuk membelikan dulu karena katanya fish n' chips Starbeck ini sering habis sebelum tutup.

selesai mandi, saya langsung berangkat. kata Ade kalau mau cepat ke rumahnya bisa naik bis dari deket rumah. tapi saya tunggu lama di halte, bis tidak nongol juga. waduh... nanti fish n' chipsnya keburu dingin. kalo dimasukkan microwave pasti rasanya jadi beda. akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki saja.

letak rumah Ade itu lumajan jauh juga kalo harus jalan kaki. mungkin sekitar 20 menit-an dari city center, jalannya naik turun dan berliku. biasanya saya paling males kalo harus jalan kaki jauh dengan perut kosong. tapi hari itu.. saya menguatkan diri dengan mengucap mantra berulang-ulang dalam hati... "Starbeck.. Starbeck... fish n' chips... fish n' chips..." sampai saya tiba di rumah Ade [pake nyasar pulak!], disambut bantalan koran fish n' chips yang sudah siap menanti untuk dibuka dan disantap di coffee table. pagi.. eh.. siang yang sungguh nikmaaatttt... seporsi habis sendiri. kenyaaaaaannngg... dan rasa penasaran saya langsung terbayar dengan kepuasan orgaschips [orgasme dengan fish n' chips! haihaihaihaihaaa...]

sampai hari ini saya sudah makan siang 2 kali dengan menu fish n' chips Starbeck di rumah Ade. yang punya rumah sampe heran ada manusia yang bela-belain jalan kaki jauh-jauh dari city center ke Sandyford untuk makan fish n' chips doang. judulnya sih emang doyan. dan mungkin juga obsessed setelah sekian lama tidak mempercayai keberadaan british food termasuk fish n' chipsnya. ditambah lagi dengan kenyataan bahwa si Starbeck ini gak buka setiap hari [suka-suka die aja kapan bukanya], saya jadi semakin merasa harus menggunakan setiap kesempatan yang ada. entah sampai kapan bakal terus obsessed begini. ini aja udah agak diprotes suami. katanya fish n' chips yang sarat dengan kandungan minyak itu tidak sehat, bikin gemuk... bla.. bla.. blaa... well.. kita lihat saja sampai suatu saat saya membawa pulang fish n' chips Starbeck untuk makan malam. saya yakin dia juga pasti akan ketagihan! dijamin!!


loucee said it on 3:58 AM




Wednesday, September 13, 2006

• friends

seorang teman baru disini pernah bertanya, "capek gak sih louc, harus selalu say good bye ke temen-temen lo?"
saat itu kami memang sedang ngobrol tentang orang-orang yang sudah atau sebentar lagi akan meninggalkan Newcastle. orang-orang yang sebetulnya tak terlalu atau bahkan tak pernah saya kenal karena saya memang baru 'turun gunung' dan mulai bergaul dengan anak-anak indonesia disini. so, i was just listening to their conversation. trying to picture those people in my head, dan juga ikut bersimpati ketika ungkapan 'kangen', 'kehilangan', 'the good old times' berhamburan. sampai ketika pertanyaan itu terlontar... saya hanya mampu tersenyum pahit sambil menarik napas dalam-dalam.

perpisahan dan ucapan selamat tinggal kepada teman-teman memang sudah menjadi bagian hidup sejak saya berpindah-pindah tempat. tak pernah terpikir bahwa saya harus melakukannya berulang-ulang sejak cabut for good dari kampung halaman. it's not easy of course. karena teman-teman bagi saya adalah sebuah bagian yang sangat penting untuk membuat saya tetap hidup dengan waras di tempat asing.

teringat ketika pertama kali harus bilang good bye to a bunch of people. saya masih berasrama di sebuah sekolah bahasa di Tarrytown, NY. selama 2 bulan di sana, teman-teman dari seluruh dunia kerap datang dan pergi. masing-masing memang bersekolah dengan jadwal dan durasi program yang berbeda. ada yang cuma 2 minggu, ada yang 4 minggu, ada yang sampai 6 bulan. so in the end, saying good bye to them was actually a part of the school's program, i think. it was hard in the beginning. apalagi saat harus berpisah dengan teman-teman yang sungguh dekat. sampai lelah rasanya mengalami tenggorokan tercekat atau banjir air mata saat melepas mereka semua pulang ke negara masing-masing.

like it or not, berpisah dengan teman-teman memang sudah menjadi resiko ketika sama-sama sedang merantau di negeri orang. you know that one day you'll always have to say good bye to them. kadang suka jadi pahit sendiri kalo mengingat bagaimana pertemanan itu berawal, lalu tumbuh, terpelihara tapi lalu harus dilepas karena salah satu harus pergi. memang siih... some people might say.. "friendship stays forever." tapi kan ya tetep beda kalo orangnya gak bisa dilihat, diajak jalan-jalan, makan bareng, juga dicela-celain atau dijitak-jitak...*hihi*

on the other hand, hidup nomaden begini juga membuat saya jadi lebih pinter dikit untuk mendalami 'the art of making new friends'. meskipun sering terkesan cablak dan gak tau malu *ihik*, sebetulnya saya adalah orang yang gak bisa langsung nyaman jika harus ngobrol apalagi berakrab-akrab ria dengan orang baru. tapi itu dulu banget. seringnya frekwensi pindah tempat membuat saya jadi lumajan terlatih untuk kenalan dan akhirnya memiliki teman setiap singgah di tempat asing.

awalnya tentu gak gampang. apalagi jika saya datang sebagai satu-satunya orang baru di sebuah komunitas pertemanan yang sudah solid terbentuk. sometimes you have to work hard to get accepted. for sure you have to be proactive but not aggressive, be sensitive, be flexible, be positive and of course... be open! in this case, tentu sifat malu-malu, pilih-pilih, atau penuh prasangka gak akan berguna banyak kalau ingin menambah teman.

still, dengan deretan attitude yang sebaiknya dimiliki tsb, menjadi diri sendiri tetap menjadi hal yang paling penting saat masuk di sebuah lingkungan baru. i've learnt that this is actually the best way to find a true friendship. because true friends will always except who you really are dengan segala kecacatan dan ketulalitannya.

kembali ke pertanyaan temen saya tadi, masalah capek atau gak saying good bye to my friends... well, jawabannya... capek. tapi itulah hidup, teman-teman. berdamai dengan situasi by saying "kita pasti ketemu lagi, kaann...!!" akhirnya menjadi sebuah pilihan supaya tak terlalu merasa kehilangan setiap berpisah dengan teman-teman. and that means... saya tak akan pernah berhenti untuk mencari teman baru karena takut suatu hari akan kehilangan mereka. all i have to do is just to look at the bright side... friends are like gifts in life. and don't you think i should be thankful by having so many gifts from all over the world by living a modern gipsy life?




*miss you all my dear friends...!! wherever you are...*


loucee said it on 4:13 AM




Monday, September 11, 2006

• 5 tahun silam...

saya baru tertidur dua jam ketika telephone di kamar berdering sekitar pukul 9...
"louc..." it was my mom.. "masih tidur?"
"masih mom... aku begadang ngerjain tugas semaleman.." jawab saya masih dengan mata terpejam.
"ada pesawat nabrak world trade center. kamu baik-baik aja?"
"huh? baekk..... ada pesawat nabrak apaan?"
"world trade center."
"oh... rumahku kan gak deket world trade center. aku gak denger apa-apa.... hmmm... ngantuk nih, mom. aku harus tidur, nanti sore ada kelas..."
"oh ya, udah... gak papa. yang penting kamu baik-baik aja."
"iya.. aku baik-baik aja. gak ketabrak pesawat... hoemmm...."

saya lalu berusaha tidur kembali. tapi telephone dari ibu barusan membuat otak saya berpikir... hmm... ada pesawat nabrak wtc? pesawat apaan? malas-malasan saya akhirnya bangkit, membuka pintu kamar, menghempaskan tubuh di sofa depan tv yang sedang menyiarkan langsung.. pemandangan world trade center... terbakar hebat bagai 2 obor raksasa.

"what the hell....??" gumam saya masih sambil mengumpulkan nyawa
"iya gilak! ada pesawat nabrak wtc!!" sahut flatmate saya yang sedang bersiap-siap pergi ke sekolahnya di manhattan.
"when?? how???" tanya saya masih bingung menyaksikan siaran langsung di tv yang lebih menyerupai film action.
sambil memakai sepatu, ia pun bercerita tentang pesawat pertama yang menabrak south tower sekitar setengah jam yang lalu, disusul pesawat kedua yang menabrak north tower 15 menit kemudian. they were hijacked. entah oleh siapa. but by the time she finished telling me the stories, reporter di tv mengumumkan bahwa semua jembatan dan terowongan yang terhubung dengan manhattan ditutup. there was no way to get in or out the island, termasuk dari queens, tempat kami tinggal.

"yah... gue gimana mo ke sekolah, nih?" katanya sambil memandang tv
"gurunya juga ngerti kali... rumah lo di queens..."
"iya sih.. duh bete juga nih kalo gak ada subway ke manhattan hari ini."

masih sambil terus menatap tv, kami berdua pun meneruskan obrolan pagi itu dengan topik gimana caranya orang-orang yang di wtc itu menyelamatkan diri. meski prihatin, suasana di ruang tv kami masih santai. we were talking of how the firefighters would handle the fire all the way up of world trade center, of whether we know anybody who work in the building, or when would they reopen bridges and tunnel again.

sampai sekitar pukul 10, suddenly the most surreal scene appeared on the tv screen... the south tower of the world trade center began to collapse...

"OH... MY... GOD!!!!!!"
panik mulai menyelimuti ruang tv. gilakkk... wtc rubuh. oh my god.... this is serious. apalagi melihat pemandangan lower manhattan yang seketika tertutup debu dan asap. saya segera bangkit dari duduk, mencari cordless phone, mencoba menelephone sekolah yang letaknya berbatasan langsung dengan lower manhattan. tapi tidak ada yang mengangkat. saya lalu mencoba menelephone beberapa teman sekelas di handphone mereka. but, couldn't get through at all... all of them!! oh my god, i hope they are allright.. apalagi mengingat beberapa dari mereka tinggal di lower manhattan.

selama setengah jam kedepan, perasaan panik dan tegang masih meliputi kami. cordless phone masih terus saya genggam sambil melihat update menit per menit tentang keadaan manhattan dari tv. tak banyak yang kami bicarakan. pandangan kami lekat ke layar kaca diselingi dengan berbagai ungkapan, ekspresi tak percaya. hingga 30 menit berikutnya, ketika kami menyaksikan sendiri puncak north tower yang mulai miring, terlihat tak stabil dan 9 detik kemudian.... runtuh menyusul south tower. seketika sekujur tubuh saya terasa amat sangat lemas...

******

waktu sudah menunjukkan pukul 5 ketika satu-satunya jalur subway nomer 7 antara queens dan manhattan dibuka kembali. saya memutuskan untuk pergi, menengok manhattan. seharian itu, telephone di rumah kami tak berhenti berdering. teman-teman yang berkantor di manhattan sudah menelephone beberapa jam sebelumnya. bercerita perjuangan mereka keluar dari manhattan dengan berjalan kaki melewati brooklyn bridge atau uptown. some were still in shocked, some were still crying, but they were all allright. termasuk salah satu tetangga kami yang berkantor di wtc. he got home safely. tapi cuma bisa bengong begitu sampe rumah. couldn't say a word.

hening jugalah yang menemani perjalanan subway yang membawa saya menuju times square sore itu. tenggorokan rasanya tercekat saat subway berjalan pelan di atas queen bridge. downtown terlihat dari kejauhan. semua penumpang di dalam kereta yang tak terlalu penuh itu hanya bisa menatap ke arah tempat 2 gedung gagah yang kini tiba-tiba hilang. tergantikan gumpalan asap yang mengepul tebal.

"how on earth, this thing happened?" kata pria hispanik yang duduk di sebelah saya.
still.. saya masih tak bisa berkata apa-apa. mata saya lekat menatap jendela, hingga downtown berangsur-angsur lenyap dari pandangan.

langit sudah gelap saat saya keluar dari stasiun. saya berjalan pelan ke tengah-tengah times square yang terang benderang dengan nyala lampu neon meski tak ada satupun tempat yang buka. tempat yang di hari normal amat sangat ramai ini mendadak sepi. hanya segelintir orang terlihat disana. memandang dengan takjub layar raksasa yang menyiarkan wtc ditabrak, terbakar dan collapse. terus berulang-ulang. di seberangnya, layar elektronik gedung morgan stanley yang biasanya berisi barisan indeks saham berganti menjadi nomer hotline untuk mencari kabar pegawai mereka sendiri.

aneh rasanya berada di times square dalam suasana seperti itu. saya lalu memutuskan untuk mulai berjalan pelan ke arah downtown. tak ada kendaraan pribadi atau taksi yang melintas selain ambulance, fire truck, dan mobil polisi. suara sirene meraung-meraung mengiringi perjalanan saya. melintasi new york yang terasa seperti kota mati. melintasi rumah sakit yang dijaga para petugas medis yang siaga menunggu setiap ambulance tiba di gerbang emergency, melintasi barikade polisi di berbagai tempat. saya berjalan terus... jauh... hingga sampai di stasiun union square dekat sekolah, untuk kemudian kembali pulang ke rumah.

******

hari itu memang menjadi pengalaman yang paling membekas selama saya tinggal di new york. sekolah saya ditutup selama 2 minggu berikutnya. ketika akhirnya masuk lagi, setiap kelas mewajibkan setengah jam pertama untuk terapi bagi murid-murid yang sebagian besar masih in shocked. "just let it out... let your feelings out... your fears, your worries, your sadness, everything.." ujar dosen typography saya membuka session.

selama berbulan-bulan berikutnya, peristiwa september kelabu itu tak habis-habisnya dibicarakan tak hanya di dalam kelas, tapi juga dimana-mana. mereka yang saat itu berada di new york pasti tau betul rasanya. mirisnya melihat pemandangan downtown manhattan tanpa kedua gedung kembar, berubahnya energi new york yang tiba-tiba surut untuk beberapa saat. bahkan hingga hari ini, 5 tahun kemudian... semua rasa itu, semua ingatan kelam itu masih terasa dan telihat dengan sangat jelas di benak.


loucee said it on 5:31 AM




Wednesday, September 06, 2006

• siti patah hati

siti dan tono. tinggal di dua kota yang berbeda. kenalan untuk pertama kalinya saat sama-sama pulang kampung di jakarta. sejak ketemu nempel terus kaya perangko. dimana ada siti, disitu ada tono. kemana-mana selalu berdua. sampai hari dimana mereka harus kembali ke kotanya masing-masing, keduanya sama-sama berjanji untuk melanjutkan kisah asmara meski jarak terbentang memisahkan.

siti yang sudah lama tak punya pacar pernah bilang, "aku cinta buangeeet sama mas tono! biarpun cuma ketemu sebentar, aku yakin mas tono itu pasti jodohku!" katanya dengan mata berbinar-binar.

sambil mengunyah kacang, saya yang mendengar ocehan siti cuma manggut-manggut sambil nanya balik, "mmmm.... kok yakin banget kalo jodoh..? kan cuma ketemu sebentar."

"feeling!" katanya singkat, "dan feeling tak pernah berdusta..."

saya terdiam sejenak, masih mengunyah... "mmm.. nyam.... nyam...... mudah-mudahan feeling kamu benar......gleg..."

kacang pun tertelan.

berminggu-minggu setelah pertemuan di kampung halaman itu, kisah asmara siti dan tono masih kuat terjalin. setiap hari mereka berkirim kabar melalui puluhan sms dan ratusan menit pulsa telephone. setiap kegiatan dan posisi masing-masing saling diketahui. bangun jam berapa, mandi pake sabun apa, makan siang dengan lauk apa, sampai kembali mau tidur dengan pijama atau hanya celana dalam saja. :) sms dan pembicaraan yang sungguh tidak penting sih menurut saya. tapi keduanya menikmati. karena cuma tulisan di layar dan suara dari ujung cellphone lah yang bisa mendekatkan dan mengobati rasa kangen mereka.

berbulan-bulan sudah sejak saya membiarkan siti menikmati petualangan asmara barunya, di suatu hari yang indah tiba-tiba siti menelephone saya, "louc..." katanya dengan suara lemas dan super serak... "aku... aku... sedih bangeeettt.... hiks...."

"kenape lo, sit?" ujar saya agak bingung.

"aku... aku... mas tono dan aku... udah... aduh.. aku... hikss... hikss... BHWUAAAAAAAAAAAAA!!!!"

"gue kesana! sekarang!" ujar saya singkat begitu mendengar bendungan air mata siti jebol tak tertolong.


*****

siti ditemukan dalam posisi meringkuk di kasurnya saat saya datang. rambutnya acak-acakan, matanya bengkak dan wajahnya lesu dengan pancaran sinar petromaks... eh.. putus asa.

"errr.... situ oke?" tanya saya hati-hati.

siti hanya memandang saya. tatapan nelangsanya langsung membuat saya berpikir ditoel dikit dia pasti langsung lebur menjadi debu *ceilee*... namun belum sempat saya menggerakan jari-jemari untuk me-noelnya, sambil masih sesenggukan siti bercerita...

"kamu tau kan, louc... aku cinta banget sama mas tono. belum pernah aku merasakan cinta yang seperti ini. segalanya yang aku impikan pada seorang laki-laki ada di mas tono. biarpun kami tinggal berjauhan, aku benar-benar menyerahkan hatiku seutuhnya pada mas tono. gak ada jarak diantara kita. bagai matahari, mas tono selalu menyinari dan membuat hari-hariku 3 kali lipat lebih happy. aku benar-benar merasa hidup dengan kehadirannya. mas tono juga bilang kehadiranku membawa harapan baru dalam hidupnya. aku begitu yakin saat itu bahwa kita memang diciptakan untuk saling membahagiakan satu sama lain.

sampai tiba-tiba seminggu yang lalu. aku merasakan perubahan sikap pada mas tono. smsnya jadi jarang mampir. kalau aku kirim tidak langsung dibalas, dan kalau ditelephone suaranya dingin kaya kulkas. aku sempat bingung dan bertanya-tanya... aku salah apa? sampai akhirnya mas tono bilang... katanya dia lelah. lelah cuma bisa sms dan telephonan tanpa tau kapan bisa ketemu aku lagi. katanya long distance relationship SUCKS!! gak ada angin gak ada hujan, louc... tau-tau dia bilang SUCKS!!! padahal aku merasa baik-baik saja. biarpun suka putus asa, tapi sms dan telephonan juga masih bisa mengobati rasa kangen. yang penting aku tau dia masih ada disana.

hari ini dia bilang dia mau udahan. hancur lebur hatiku mendengarnya. bisa-bisanya dia bilang begitu saat aku sudah cinta mate begini. saat aku sudah berharap begitu banyak. saat aku sudah menggantungkan kebahagiaanku pada mas tono seorang. aku... aku... gak tau harus ngomong apalagi. hidupku berhenti. kalau bisa mati aku mau mati sekaraaaanngggggg.... BHUUAAAAAAAAAA....."

terdiam saya mendengar pidato panjang lebar dari siti yang kini mulai menangis lagi. meskipun terdengar cukup dangdut, dalam hati saya tetap merasa kasihan. sambil mengelus punggungnya, saya mulai berpikir kalimat apa yang paling tepat untuk menenangkan siti yang sedang patah hati.

tepatkah jika saya bilang bahwa menjalani long distance relationship itu memang tak pernah gampang? ah, dia pasti sudah tau. hmm... bagaimana kalo bilang hubungan asmara jarak jauh itu tidak untuk semua orang? jika siti bisa, belum tentu mas tono bisa. setiap orang punya kebutuhan berbeda untuk membuatnya bahagia. tapi.... kebahagiaan pun sebaiknya tidak digantungkan pada orang lain. sebaliknya saya percaya bahwa rasa bahagia harus bisa didatangkan oleh diri sendiri. orang lain bisa membantu. tapi tetap pada diri sendirilah rasa bahagia itu harus ditemukan.

lalu tentang cinta siti yang all out tapi akhirnya tersia-siakan? nah itu... saya selalu percaya bahwa yang namanya jatuh cinta tetap harus pake logika. cinta boleh. cinta mate? eits.. nanti dulu. apalagi jika hubungan masih seumur jagung dan long distance pulak. double risk! memang sih... kadang dengan memberikan cinta seutuhnya kita bisa merasakan getar-getar hati yang tak mungkin didapat jika hanya memberikan cinta tiga per empat. tapiiii... resiko kalau sampe patah hatinya itu lho... pasti lebih lama sembuhnya. ntar aja sama suami kalo mau cinta mati, biar berasa saat bilang "til death do us apart!"

sejenak saya asyik dengan teori-teori dalam pikiran saya sendiri hingga tersadar bahwa siti si gadis patah hati masih sesenggukan, meringkuk di kasur. hmmm... bilang apa ya? lagi kalut begini biasanya agak susyeh diberi nasihat-nasihat sok bijaksana... hmmm.... "sit, mandi dulu yuk! biar seger..." ujar saya memecah keheningan.

"aku... rasanya aku... mau mati..." ujarnya lemah.

waduh gawat... "errr... jangan mati dulu, sit. mandi dulu aja, gimana? biar segeran gituhh..." kata saya sambil mencari-cari handuk di kamar siti.

"gak... aku mau... mati.... "

walah... benar-benar sedang patah hati anak ini. tapi, kalo beneran sampe kepengen mati?? waduh!

"mmm... sit, gue laper nih. punya kacang gak?" tanya saya akhirnya.

"hmm? kacang? ada mungkin... di dapur..." jawabnya lemas.

bergegas saya meninggalkan siti. di dapur tak hanya kacang yang saya cari, tapi juga pembasmi serangga. kalut dan patah hati memang bisa membuat orang berpikiran yang tidak-tidak. tapi kalo pembasmi serangganya saya umpetin, paling gak siti masih harus usaha.



*be setrrooonnggg yaaa siiiiittttt!!! lepas satu tumbuh seribuuuuuuu!!!! aku kan selalu disini menemani dirimuuuuuuuuuu!!!*


loucee said it on 3:54 PM




Friday, September 01, 2006

• es empat

ada banyak alasan orang bersekolah. jika waktu SD alasan utamanya adalah untuk belajar IPA, IPS, PMP, etc.... hmmm... mungkin tidak. di benak polos saya waktu itu adalah saya sekolah karena... ya memang harus sekolah aja. soal benar atau salahnya alasan itu rasanya tidak menjadi perkara besar. namanya juga anak kecil, disekolahin ya nurut saja.

beranjak SMP, alasan saya untuk bangun jam 6 pagi, ngantuk-ngantuk pergi ke sekolah adalah... untuk bertemu teman-teman. BERMAIN menjadi agenda utama, dengan belajar fisika, biologi, matematika, dst.. sebagai sampingannya. bahagiakah saya? tentu saja! ada atau tidak ada PR maupun ulangan, selama bisa main dengan teman-teman saya gembira. nilai rapor pas-pasan? ah, itu urusan belakangan. :P

sampai SMA, semangat sekolah untuk bersenang-senang [meski sambil bete karena banyak tugas dan ulangan] tetap jaya berkobar. maka tak heran jika nilai pelajaran eksakta saya sukses terbakar, dicap 'biang kerok' sampai ibu saya dipanggil oleh bapak wali kelas, dan tentu saja... langganan urutan buncit, hingga beberapa kali nyaris tak naik kelas. but.. no biggie! dengan status sebagai 'bukan pelajar teladan' tadi, saya tetap bergembira ria di kegiatan luar kelas. bersenang-senang menjadi illustrator majalah sekolah atau menjadi pemeran utama di pertunjukan teater sekolah menjadi lebih penting dibanding belajar ekonomi atau hitung dagang dimana perhitungan neraca saya selalu merugi di setiap ulangan. hakhakhakhak...

untungnya, gaya ugal-ugalan semasa sekolah ini tidak terbawa ketika saya kuliah seni rupa di Bandung. meski semangat bermain tetap menyala, semangat untuk mendapat nilai bagus juga sama besarnya. di masa kuliah inilah saya betul-betul merasakan nikmatnya belajar dari hati... dengan penuh cinta *ihik* daaaaan.... ketika anda mencintai apa yang anda lakukan, satu hal baik akan berlanjut pada hal lain, bukan? siapa sangka si biang kerok yang rapornya selalu kebakaran dan sering hampir tak naik kelas dulu bisa lulus cepat dengan predikat cum laude pulak! *tiwwwwww.... tiiiwwwww... cuiit... cuiitttt*

kembali pada pertanyaan di awal tadi... alasan orang bersekolah memang bisa bermacam-macam. alasan itu juga bisa menjadi bergeser seiring dengan bertambahnya umur. jika dulu saya memulai karier sebagai pelajar karena disuruh orang tua, atau ingin bersuka ria dengan teman-teman, semakin tua alasan itu semakin tak laku. memperkaya diri dengan ilmu baru lebih menjadi yang utama. alasan itulah yang kemudian mendorong saya untuk melanjutkan S2 design di New York. di saat saya mulai merasa stagnan dengan hasil design saya sendiri. di saat saya mulai gelisah, kekurangan asupan ilmu di tempat kerja selama 2 tahun. saat itu, bukan gelar yang saya kejar, tapi lebih ke pengetahuan dan terutama pengalaman baru yang saya butuhkan.

apakah saya mendapatkan apa yang saya cari di New York? tentu saja! apakah itu berarti saya berhenti untuk belajar lagi dan lagi? tidak juga! after all, hidup adalah sebuah proses belajar, bukan? apapun metodenya tidak menjadi masalah, yang penting otak harus terus distimulasi.

2 tahun sudah saya meninggalkan New York dengan bekal pengalaman tak ternilai juga tambahan gelar di belakang nama sendiri. saat saya berpikir sekolah adalah sebuah masa lalu, otak saya mulai gelisah kembali, meminta tambahan ilmu baru. inilah yang mendorong saya untuk akhirnya memutuskan masuk sekolah lagi. kali ini bukan ilmu mendesign yang saya butuhkan, tapi ilmu lain yang bisa membantu menjalankan bisnis design itu sendiri. yang selama ini tak cukup saya jalani dengan hanya berbekal intuisi.

10 hari lagi saya akan kembali menyandang predikat sebagai pelajar. tetap... bukan gelar yang saya kejar. biarlah suami saya saja yang memiliki gelar PhD. memperoleh ilmu baru dalam bidang Design Management rasanya lebih menjadi motivasi meski sebuah gelar S2 lagi akan tetap menjadi bonus saat lulus nanti. jika masih ada yang keukeh bertanya mengapa tak sekalian S3 saja? jawabannya gampang; siapa yang masih perlu S3 jika hukum persamaan matematika mengatakan 2 x S2= S4!! :)

wish me luck!


loucee said it on 6:06 PM