Tuesday, April 24, 2007
• sebuah artikel yang tertunda
**kata pengantar
kira-kira bulan Maret setahun lalu, saat sedang nengok kampung halaman, sebuah email dari seseorang yang dikenal dengan nick name verypurpleperson mampir di mailbox saya. isinya berupa undangan menulis untuk mengisi kolom Viewpoint di majalah Eve Indonesia. meskipun langsung saya balas dan nyatakan kesediaan, undangan itu sempat terlupakan sampai berminggu-minggu kemudian. hingga di suatu hari yang indah saat lagi nelangsa memandang langit Newcastle, saya baru inget kalo saya masih punya hutang tulisan. *oh... aku semakin tua... apa-apa jadi lupa... hiks..*
tulisan untuk kolom Viewpoint ini akhirnya rampung 2 bulan kemudian. ditulis dalam suasana hati sedang kesel jadi imigran, frustrasi cuma bisa membayangkan nikmatnya blok-S dan bete harus tetep pake jaket meski musim sudah berjudul summer.
sebetulnya saya sudah ingin membagi tulisan ini dari tahun kuda [pertanyaan kuis: sebetulnya kapan sih tahun kuda?]. namun apa daya, hingga berbulan-bulan kemudian, saya tak pernah mendengar kabar tentang nasib tulisan ini, sampai akhirnya jadi lupa sendiri *confirmed sudah, aku memang sudah jadi oma-oma!*
tulisan ini akhirnya dipublish di majalah Eve setahun kemudian. tepatnya di edisi Maret 2007 yang lalu. saya sendiri juga baru tau setelah membaca pesan seseorang *whoever you are, makasih, ya* di shoutbox ajaib sebelah kanan layar komputer anda yang kadang berfungsi kadang gak [suka2 die aje...]. dan sesuai cita-cita tulus dari seorang imigran, tulisan ini akhirnya bisa juga terpasang disini, karena meskipun sudah tertunda berbulan-bulan, isinya masih valid.. bahkan SEMAKIN valid!! oma kangen rumah! hikss...
------------------------------
Luar Negeri
Setiap pulang ke Jakarta entah ada berapa banyak orang berterus terang menyampaikan rasa siriknya kepada saya, "Enak banget sih loe, bisa tinggal di luar negeri!" Dan setiap mendengar kalimat ini, biasanya saya hanya tersenyum penuh arti sambil mengucap dalam hati, "Enak? Kata siapa?"
Luar negeri. Bagi banyak orang kata ini sering menjadi sebuah simbol kemewahan, kemajuan, kemapanan, juga harapan akan kehidupan yang lebih baik dari hidup di negeri sendiri. Dulu, saya pun tak luput dari memiliki pandangan semacam ini. Sampai menyimpan cita-cita di hati kecil untuk bisa merasakan tinggal di luar negeri untuk selamanya suatu hari nanti.
Beruntung saya memiliki kesempatan mencicipi kehidupan luar negeri meski hanya sebagai turis di berbagai negara Amerika dan Eropa semasa libur sekolah. Dan ya, setiap pulang dari luar negeri, saya selalu merasa menjadi orang paling keren sekecamatan. Apalagi dengan baju, sepatu, tas serta pernak-pernik paling trendi hasil berburu selama disana. Tanpa perlu tahu berapa harganya - yang pasti tidak mahal maupun bermerk terkenal, karena uang saku saya selalu pas-pasan - teman-teman akan selalu kagum dengan benda-benda made in luar negeri tersebut. Belum lagi jika ditambah dengan cerita dan foto-foto perjalanan yang selalu sukses membuat semua orang ngiler mendengar petualangan saya selama jalan-jalan di luar negeri.
Luar negeri memang menyilaukan, dan tak salah jika jalan-jalan ke luar negeri dianggap meningkatkan kadar keren Anda. Tapi, bagaimana dengan tinggal di luar negeri? Jika saya tak pernah angkat kaki dari negeri sendiri untuk melanjutkan sekolah di New York City, saya mungkin tak akan pernah bisa merasakan betapa jauh beda antara kata 'jalan-jalan' dan 'tinggal' meskipun sama-sama terjadi di luar negeri. Yang terakhir, jelas tak selamanya selalu mudah apalagi menyenangkan.
For a start, saya selalu diperlakukan sebagai seorang pendatang selama tinggal di luar negeri. Selayaknya orang numpang, hak yang saya terima tentu tak sama dengan warga negara setempat. Mulai dari biaya sekolah yang 3 kali lipat lebih mahal sebagai International Student, ijin bekerja yang jauh dari mudah dan membutuhkan proses njelimet, sampai mencari apartemen dimana saya harus selalu menunjukkan credit history yang notabene tak saya miliki akibat tak pernah tinggal di Amerika sebelumnya.
Dengan sederetan tantangan ini, problema klasik seperti hidup tanpa mbok Inah yang siap sedia memasak atau mencuci pakaian saya seperti di kampung halaman akhirnya menjadi nomer sekian. Kebutuhan untuk dapat diterima sepenuhnya di negeri baru menjadi lebih penting dari segalanya.
Hampir 4 tahun saya tinggal di New York. Belum lagi proses 'penerimaan' di Amerika sepenuhnya tuntas, saya keburu diboyong suami Perancis saya ke tanah kelahirannya. Di Paris, meski kendala imigrasi tak serumit di Amerika, saya menemukan tantangan baru lainnya; bahasa. Ungkapan 'Bahasa Inggris adalah kunci untuk membuka pintu gerbang dunia' menjadi kurang berarti bagi saya yang sering frustrasi akibat tak memiliki kemampuan Bahasa Perancis yang cukup. Bagai balita yang baru mulai belajar bicara, saya harus mulai belajar segalanya dari awal untuk menakhlukkan negeri baru.
Sayang, tak sampai setahun jadi 'balita', saya harus pindah lagi. Kali ini ke sebuah negeri yang senantiasa dinaungi langit kelabu juga makanan yang jauh dari enak bernama daratan Inggris. Sekali lagi, saya harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi serba berbeda dari awal. Lelah? Jangan ditanya!
8 bulan lebih saya tinggal di Inggris, dan 5 tahun sudah saya angkat kaki dari negeri sendiri. Berpetualang di 3 negara telah membuka mata saya bahwa hidup di luar negeri tak selalu berarti kemudahan, tapi lebih merupakan sebuah perjuangan. Semakin lama berada jauh di luar negeri, semakin menggebu pula keinginan saya untuk pulang. Tanpa bisa dipungkiri, selalu ada perasaan rindu menyelinap untuk kembali menjalani hidup di sebuah tempat dimana saya selalu diterima dengan tangan terbuka, bisa berbicara dalam bahasa ibu saya sendiri, bermandikan sinar matahari, dan makanan super lezat siap dinikmati. Di tempat itulah hati saya nyaman tertanam, namanya... kampung halaman.
loucee said it on 9:42 PM
Monday, April 09, 2007
• the job hunter's stories
is it going to be a new habit? posting sebulan sekali? :P hehehehe... I really don't know. rasanya kok belom rela untuk membuat blog ini menyerah pada status hiatus secara resmi, but realistically... it's been quite challenging to keep up with this blog... hiks...
anyway... saya sedang menikmati easter 'holiday' selama 2 minggu. dikawal dengan tanda kutip untuk menegaskan bahwa ini adalah holiday boong-boongan, karena ada 3 essay assignment dan proposal disertasi yang harus dikumpulkan begitu holiday selesai. huekss...!!
selain bolak-balik library sambil menambah minus kacamata, break 2 minggu ini juga saya habiskan dengan... job hunting! sejak kembali jadi mahasiswi, saya memang memutuskan untuk tidak menerima project design sama sekali. beberapa tawaran yang sempat mampir dengan berat hati terpaksa saya tolak, karena khawatir project2 tsb tak akan bisa saya tangani secara profesional akibat kesibukan sekolah.
tapi... as a designer at heart...*twiwuittt..* :) ternyata bosen juga jadi mahasiswa yang assignmentnya cuma baca-tulis [capeee deee... ] dalam hati kecil saya ada sedikit rasa cemas bahwa kemampuan mendesign ini lama-lama bisa terkikis jika lama tak dipergunakan. nah, berdasarkan pikiran paranoid tsb, ditambah rasa panik saat melihat angka di tabungan berkurang digitnya, tanpa ada pemasukan sama sekali, dimulailah petulangan saya berburu part-time job di Newcastle yang ternyata... ermm.. susah-susah gampang.
awalnya, saya hunting lewat job search website yang banyak bertebaran di internet. tapi... dasar Newcastle memang ndeso... jangankan graphic designer jobs, graphic design company-nya aja termasuk benda langka disini. tenaga designer lebih banyak dicari di Edinburgh [agak ke utara sedikit], Manchester [sebelah barat daya] atau yang paling banyak tentu saja... di London [kota beradab dan berbudaya nun jauuh.... di sebelah selatan sana].
keadaan yang tak terlalu menjanjikan ini kemudian memaksa saya untuk mendaftarkan diri ke beberapa local recruitment agency. pertimbangannya... mereka tentu punya info job ad yang lebih banyak dibanding kalau saya harus nyari sendiri. the good thing is... sebagian langsung menghubungi saya lewat email atau telephone untuk interview lebih lanjut sehari setelah saya mendaftar. but the bad thing is... pertanyaan mereka rata-rata sama... "will you be willing to relocate for a job?" karena ternyata... ya di Newcastle gak ada kerjaan, bo! basinyaaaa!!! pfff....
setengah putus asa, nyari kerjaan designer yang kering kerontang, saya akhirnya mulai melirik untuk menggunakan jasa sekolah. Northumbria punya student jobshop yang biasa membantu mahasiswa untuk dapet kerja part-time atau full-time sekalian. kerjaannya sih kebanyakan ya bar staff, waitress, shop assistant... you know... typical jobs for students. tapi awal bulan lalu, saya nemu 1 kerjaan dengan title: PART-TIME GRAPHIC DESIGNER for an Educational/Skill Development Company. whoa!
tanpa mikir 2 kali saya langsung ngelamar. besoknya dapet balesan email, minggu depannya langsung interview. everything might sounds so easy until this point. but the truth is... not really. karena despite of the fact bahwa interviewnya berjalan lancar, keliatan udah tinggal selangkah lagi untuk bisa di-hire, pekerjaan di perusahaan yang disponsori penuh oleh sebuah EU foundation tsb harus lepas karena... mereka cuma boleh hire UK/EU Citizen! [note to myself: having an EU husband doesn't automatically make you an EU citizen! ye.. ye.. yeee....]
fortunately... dalam suasana masih sebel gara-gara soal status, saya nemu 2 graphic designer job ad lagi di student jobshop. yang 1 akhirnya lewat karena mereka cuma bisa hire undergrad students, sementara yang 1 lagi kantornya di Stockton [an hour by train from Newcastle], tapi karena part-time, semua project dikerjain dari rumah. saya cuma perlu report via email. sweet!! I applied for this one, kirim CV dan mini-portfolio, diundang interview langsung oleh si owner di rumahnya 2 hari kemudian... dan pulang dengan 3 lembar kertas berisi brief of my first project with them. I got hired! woo hooo!!
i thought my job hunting was over at that point. but, on the way pulang ke rumah, gak sengaja saya melihat graphic designer job ad terpasang di etalase sebuah print shop. biarpun udah dapet kerjaan, tetep saja girang bisa nemu iklan kerjaan graphic designer. apalagi setelah sekian lama mencari kesana-kemari. so... i decided to stop by. nge-drop CV dan mini-portfolio yang kebetulan hari itu saya bawa, and... received an interview letter in my mail box 3 days after. asikk! :)
now, about that interview... hehe... this is interesting. dari seluruh interview yang pernah saya jalani [about 12 of them sejak lulus S1], rasanya di print shop inilah saya mengalami wawancara pekerjaan yang cukup mengangkat sebelah alis.
biasanya untuk interview profesi graphic designer, proses sederhananya adalah nunjukin portfolio ke creative director sambil ngobrol santai... tentang ide/konsep, proses kerja, and maybe a bit of question like 'how do you see yourself few years from now?' other than those kayanya jarang ya ditanya hal-hal formal seperti job interview pada umumnya yang denger-denger bisa bikin keringet dingin saking intimidating-nya.
nah, di print shop inilah untuk pertamakalinya saya diwawancara sama head of design department dan si pemilik print shop yang cabangnya ada 200 biji dan tersebar di seantero Europe. saya cuma diminta memperlihatkan portfolio sekilas saja. let alone talking about concept, mereka kayanya lebih tertarik untuk mengetahui kecepatan saya mendesign. wajar sih, mengingat approach design mereka yang cenderung quick.. quick.. quick.. dan instant. dalam seminggu aja mereka bisa nerima 75 project yang saat ini dikerjakan oleh 3 designer saja!
walah!
other than that, mereka juga bertanya apa saja yang saya pelajari di visual communication major. bedanya sama design management apa? bedanya kerja di jakarta dan new york apa? kenapa saya pindah-pindah kota melulu? sisi positif dan negatif of my own personalities, dan alesan kenapa mereka harus meng-hire saya instead of orang lain. hiiih... baru pertama kali ini saya digempur dengan pertanyaan2 kaya gini dalam sebuah job interview.
satu pertanyaan yang membuat saya harus terdiam beberapa saat adalah saat mereka bilang... "you have 7 years of working experience as a graphic designer in some prestigious graphic design companies. my question is.... why us now?"
walah... jujur saya gak siap, karena alasan sebenar-benarnya adalah... "karena iseng, pak! butuh duit buat nambah koleksi sepatu.." hihihihi...
untung akhir-akhir ini saya lumayan terlatih untuk jadi sok intelek saat presentasi disertasi di depan kelas. maka mengalirlah jawaban tralala dari mulut saya... "karena di tempat anda lah saya punya kesempatan untuk membuat design yang tidak untuk mengejar award. di tempat anda lah saya bisa belajar untuk membuat design yang selain indah dilihat juga harus menguntungkan dari segi bisnis. program design management yang sedang saya ambil sekarang mengajarkan untuk memperlakukan design sebagai sebuah alat untuk menambah business values. print shop anda mungkin punya design approach yang berbeda dari tempat bekerja saya sebelumnya. it might be in a different neighborhood, but still in the same graphic design area. and at this stage of my career, i'd like to get to know your neighborhood better. "
dan dengan jawaban milik kecap tuan bango tersebut, minggu depan saya diundang untuk interview ke-2. entah apakah saya akan bersorak-sorai jika diterima [25 project dalam seminggu??? *gubragg!!*], yang penting dalam waktu dekat ini koleksi sepatu saya ada harapan untuk menambah jumlah!
spring is coming... i need some new pair of shoesss!! ;)
loucee said it on 1:35 AM




ARCHIVES
- February 2004
- March 2004
- April 2004
- May 2004
- June 2004
- July 2004
- August 2004
- September 2004
- October 2004
- November 2004
- December 2004
- January 2005
- February 2005
- March 2005
- April 2005
- May 2005
- June 2005
- July 2005
- August 2005
- September 2005
- October 2005
- November 2005
- December 2005
- January 2006
- February 2006
- March 2006
- April 2006
- May 2006
- June 2006
- July 2006
- August 2006
- September 2006
- October 2006
- November 2006
- December 2006
- January 2007
- February 2007
- March 2007
- April 2007
- May 2007
- August 2007


