human - scribble

Wednesday, March 30, 2005

• kukirimkan sepucuk surat untukmu, sayang...



hari gini masih pake snail mail? tentu saja masih! biarpun pesan tertulis sekarang bisa disampaikan melalui berbagai media macam email atau sms, snail mail masih tetap dipergunakan. di US setidaknya snail mail masih terpakai untuk surat menyurat resmi antar kantor. waktu melamar kerja dulu juga saya kirim cv dan mini portfolio lewat snail mail, pun menerima cek gaji setiap 2 minggu setelah diterima bekerja di kantor yang saya kirimi itu. well.. well.. well.. berarti yang namanya perangko masih tetap dipakai dong ya?

saya bukan kolektor perangko. tapi waktu tinggal di new york, setiap pergi ke kantor pos, saya selalu menyempatkan diri melihat-lihat berbagai macam perangko yang dijual dibalik kaca mesin penjual perangko. gambarnya bagus-bagus! apalagi kalo udah mulai dekat christmas atau valentine's. pasti ada yang baru.

di amerika, sebenernya siapapun boleh kirim ide design perangko ke US Postal Service. tapi memang sampai saat ini cuma sedikit banget yang designnya diterima. dalam 14 tahun terakhir saja, kantor pos menerima lebih dari 50,000 design dari berbagai macam designer, tapi sampai saat ini cuma ada 10 designer yang pernah di-hire untuk mengerjakan perangko mereka. salah satunya adalah seorang designer bernama McCaffrey yang di-hire 34 tahun yang lalu. he was the first.

proses penyeleksian design perangko di amerika sebenernya sangat jelimet. pertama, proposal design perangko harus diseleksi oleh Citizens Stamp Advisory Committee [CSAC], sebuah lembaga multi-disipline yang ditunjuk oleh kantor pos pusat dan beranggotakan 15 orang pendidik, ahli sejarah, designer dan ahli filateli. beberapa anggotanya termasuk Richard 'Digger' Phelps - pelatih tim basket Notre Dame, sutradara Jean Picker Firstenberg dari American Film Institute, designer Michael Brock dan Sylvia Harris, seorang information design strategist.

design perangko yang lolos seleksi CSAC lalu diteruskan lagi ke 6 art director untuk dikembangkan lebih lanjut. para art director ini kemudian harus bekerja sama lagi dengan gak cuma designer lainnya, tapi juga illustrator, seniman, typographer, dan photographer. lalu setiap 3 bulan para art director tsb bertemu di Washington untuk mempresentasikan design-design perangko yang baru tadi di hadapan CSAC lagi. kadang mereka juga melibatkan masyarakat umum yang punya perhatian khusus pada dunia filateli.

design perangko amerika diharapkan mencerminkan nuansa multikultural sesuai dengan negara amerika itu sendiri la ya. ia juga harus terlihat menarik buat masyarakat umum maupun kolektor filateli yang fanatik, dan juga harus terlihat sangat a'mrik! [gak boleh tuh kayanya keliatan simpel dan presisi kaya swiss design]. selain semua tuntutan itu, perangko juga harus mentaati peraturan ketat seperti; dilarang menampilkan topik spesifik yang berkaitan dengan bisnis, industri, organisasi, atau agama tertentu. orang yang masih hidup juga gak boleh ditampilkan. yang sudah wafat baru bisa muncul di perangko 10 tahun setelah kematiannya. meskipun peraturan yang terakhir pernah dibuat pengecualian untuk mantan presiden Ronald Reagan yang wajahnya sudah muncul di perangko awal tahun ini.

phew... so much to do for such a tiny design!
tingkat kesulitan design perangko mungkin bisa disamakan dengan tingkat kerumitan proses design logo. dua-duanya kelihatannya simpel, tapi dibalik itu semua sebenernya harus melalui sebuah proses, dan research yang sama sekali jauh dari sederhana. gak heran kalo proses design perangko bisa memakan waktu yang sangat lama. paling cepet 18 bulan, sementara yang normal bisa sampe 5 tahun!


berikut, adalah beberapa cerita menarik dibalik design perangko amerika yang kebetulan ketemu:


The Love Letters Stamp
karya kolaborasi Ethel Kesser [art director] dengan Lisa Catalone [typhographer]

designnya klasik; setangkai bunga mawar merah yang ditaruh diatas selembar surat cinta. apa mereka nulis sendiri surat cintanya? sama sekali gak. pasangan ini sampai harus ngubek-ngubek kumpulan surat cintanya John dan Abigail Adams - yang dianggap sebagai the greatest American love correspondence all the time - dari Boston archive, kemudian setelah ketemu yang pas baru di photo.





The America on the Move '50s: Sporty Car Stamp
karya kolaborasi Carl Herrman [art director] dan Art Fitzpatrick [automotive illustrator]

untuk ngerjain perangko ini mereka berdua harus mencari orang2 yang memang expert dan ngerti banget tentang sports car dari tahun 50-an. untung akhirnya ketemu di kota Aberdeen, Maryland dimana disana ternyata ada seorang kolektor mobil yang memilik 70 buah mobil vintage Nash Healeys, tersimpan rapi dalam sebuah kandang!







The Elvis 'The King' Stamp
karya Mark Stuzman [illustrator]

the most popular stamp ever! proses pemilihannya sangat unik, antara illustrasi elvis muda karya Mark Stutzman [sebelah kanan pada gambar] atau elvis agak tua karya John Berkey. kantor pos amerika sampai harus melibatkan masyarakat umum untuk memilih design terbaik melalui kartu suara. iklan dipasang di People Magazine dan 1,2 juta kartu suara disebar. hasilnya? 75% pemilih memilih design elvis muda karya Mark Stutzman. not so bad choice at all mengingat perangko ini akhirnya membawa keuntungan bersih sebesar US $36 juta untuk US Postal Service sejak pertama kali diluncurkan tahun 1993.







*bahan diambil dari HOW Design Magazine edisi April 2005, dan berbagai sumber


loucee said it on 12:59 PM | |




Tuesday, March 15, 2005

• the best color for moisturizer?


saya baru punya project anyar. bikin logo plus packaging untuk brand kosmetik produk perawatan kulit yang akan di launch untuk pertama kalinya di sebuah negara sebelah barat benua afrika sana; madagaskar. waktu meeting untuk pertama kalinya si klien menunjukkan pada saya design logo yang sudah dibuat oleh in-house designer yang sayangnya tidak begitu ia suka. mulai dari bentuk logo yang terlalu abstrak, komposisi antara logo dan text yang terlalu 'sibuk', sampai warna yang menurutnya terlalu 'tuti-fruti' seperti buah-buahan. saya ngerti betul kenapa dia gak suka, kalo saya melihat logo dan packagingnya dari kaca mata awam, saya pasti akan mengira bahwa itu produk permen, bukan kosmetik.

hal yang pertama kali saya lakukan untuk membuat design logo dan packaging baru produk kosmetik ini tentu saja adalah research. biasanya saya pasti akan pergi langsung ke toko kosmetik untuk melihat dengan mata kepala sendiri 'medan perangnya', which is rak toko yang memajang deretan produk kecantikan tsb.
di new york ada satu toko yang sangat cocok untuk studi lapangan kasus ini, namanya sephora. disana segala macam merk produk kecantikan pasti ada. you name it lah. pokonya antar brand perang besar-besaran. sayang, waktu terima brief saya sudah tak tinggal di new york. jadi selain research online, saya jalan-jalan saja di mal-mal jakarta.

hasil research kecil-kecilan saya tsb menunjukkan, bahwa secara umum yang namanya kosmetik terutama untuk produk perawatan kulit didominasi warna putih. gak percaya? coba klik di section moisturizer website sephora. meskipun ada brand yang tetap menggunakan warna brandnya sendiri sebagai aksen [misalnya merah untuk clarins atau hijau untuk clinique], tetap saja dominasinya adalah putih.

kenapa putih? mungkin karena warna ini bersih. dan produk moisturizer [yang warna creamnya juga biasanya putih] pada dasarnya memang berguna untuk merawat kulit. jadi punya sifat clinical, mengobati, obat, etc.. kaya warna seragam suster, dokter dan rumah sakit yang biasanya serba putih. masuk akal. tapi, apa lantas warna selain putih jadi haram untuk digunakan pada produk moisturizer? who knows? yang pasti penggunaan warna pada produk-produk semacam ini memang bisa jadi sensitif issue yang gak bisa diabaikan gitu aja. dari kaca mata konsumen, saya pasti gak mau naro sembarang produk di muka, salah-salah jerawatan pula. saya ingin produk yang TERPERCAYA!

atas dasar tersebut, saya langsung bikin logo dan packaging baru. bentuknya simpel, layoutnya bersih, warnanya didominasi putih dengan aksen hijau kaya lemon, tapi pastel.. jadinya lembut. saya presentasi di depan klien sepekan setelah meeting pertama. klien suka, saya juga senang!

2 minggu berlalu, saya terima email dari klien. isinya laporan mengenai tes design produk mereka ke konsumen madagaskar. hasilnya? mereka gak seneng! saya sempet bingung. apa karena layoutnya yang terlalu bersih atau gimana? turn out bukan masalah layoutnya but they don't like the white colors! untuk mereka kombinasi warna putih dan hijau pastel itu gak menarik. 'African market loves COLORS!' salah satu bunyi kalimat emailnya.

saya tercenung di depan layar komputer. antara geli dan merasa bego juga. satu hal yang saya lupa dan sebenernya maha penting untuk dilakukan pada proses awal; knowing your target audience. kepada siapa saya berbicara, kepada siapa saya mengkomunikasikan produk ini. the madagaskar market. i totally forgot about this, dan malah merujuk pada pasar sephora yang notabene adalah american market.

saya masih dalam proses revisi design sekarang. i beliveve it's going to take a while until we find the best design and most important is the best for the target market to believe and buy the product. jangan-jangan ini bakal jadi produk moisturizer pertama yang colorful. siapa tahu? :)


loucee said it on 12:26 PM | |